Artikel | Mari Mengasah Pancasila

71

Penulis: I Gusti Ngurah Agung Darmayuda

 

Tahun ini di Hari Lahirnya Pancasila ke 72, suasana kebatinan kita sedang galau, alis dan dahi kita sedang mengerucut. Helaan nafas berkali-kali berusaha untuk mengusir gundah pikiran menggambarkan suasana kita sedang tidak nyaman.

Warna-warni bianglala yang  begitu indah, akhir-akhir ini terlihat suram dan kurang bersemangat. Setiap warna merasa paling berhak menonjol, bahkan ingin menghilangkan warna lainnya.

Saling curiga, saling membenci, saling membohongi, saling menuding menyelimuti hubungan antar anak bangsa. Kata Kita menjadi jarang terdengar karena kata kami lebih sering diucap.

Ketika goncangan gempa permusuhan yang dapat meruntuhkan bangunan kebangsaan terus melanda, kita butuh pondasi yang kuat, merekatnya kohesi sosial kebangsaan kita dengan hati yang bersih dan tenang.

Hati yang bersih, dapat menetralisir racun-racun kebencian yang menyuburkan perpecahan. Bukankah rembulan yang indah terlihat senyumannya di air yang jernih.

Kejernihan ini rupanya telah mengingatkan kita bahwa selama ini kita telah abai, selama ini kita telah lalai mengasah ideology kebangsaan kita, yang tersimpan dalam almari kaca kebangsaan kita.

Saat ini kita sedang bermasalah dengan urusan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Saat ini ada organisasi yang ingin menggantikan ideology Pancasila. Saat ini ada sekelompok orang memanfaatkan kekeruhan ini untuk kepentingan kelompoknya. Saat ini kita baru tersadar ada bahaya di depan mata clear and present danger.

Saat ini kita membutuhkan Pancasila, sedang selama ini kita telah mengabaikan eksistensi Pancasila. Kita abai, karena apriori terhadap metode pendalaman Pancasila di masa lalu. Pelajaran Pancasila di dunia pendidikan dipandang sebelah mata, terlihat kurangnya perhatian terhadap metodologi, isi dan daya tariknya. Para pemangku kepentingan enggan mengartikulasikan Pancasila di ranah publik. Seolah Pancasila sudah diluar kepala dan kurang mendapat perhatian untuk disosialisasikan. Kegamangan ini dimanfaatkan dengan masuknya paham-paham radikal. Anak-anak kita  tanpa saringan dan pemahaman yang kuat terpapar ideology menyesatkan ini.

Saatnya kita mengambil Pancasila dari lemari kaca kebangsaan kita,  untuk kita asah, agar tidak menjadi barang karatan. Saatnya kita memperdalam pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan keutamaan nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila dan kesalingterkaitannya satu sama lain untuk kemudian diamalkan secara konsisten di segala lapis dan bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saatnya Pancasila disebarkan dengan proses mengakar (radikalisasi). Mengutip dari Yudi Latif proses mengakar ini melibatkan tiga dimensi ideologis: keyakinan (mitos), penalaran (logos), dan kejuangan (etos).

Pada dimensi mitos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi negara. Pada sisi ini, bangsa Indonesia harus diyakinkan bahwa, seperti kata John Gardner, “Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepada sesuatu, dan jika sesuatu yang dipercayainya itu tidak memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besar.” Mematrikan keyakinan pada hati warga tidak selalu bersifat rasional. Pendekatan afektif-emotif dengan menggunakan bahasa seni-budaya dan instrumen multimedia akan jauh lebih efektif.

Pada dimensi logos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk mengembangkan Pancasila dari ideologi menjadi ilmu. Proses penerjemahan ideologi ke dalam teori pengetahuan ini penting karena ilmu merupakan jembatan antara idealitas-ideologis dan realitas-kebijakan. Setiap rancangan perundang-undangan mestinya didahului naskah akademik. Jika pasokan teoretis atas naskah ini diambil dari teori-teori pengetahuan yang bersumber dari paradigma-ideologis yang lain, besar peluang lahirnya kebijakan perundang-undangan yang tak sejalan dengan tuntutan moral Pancasila.

Pada dimensi etos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan daya juang agar Pancasila dapat menjiwai perumusan konstitusi, produk-produk perundangan, dan kebijakan publik, dengan menjaga keterkaitan antarsila dan keterhubungannya dengan realitas sosial. Dalam kaitan ini, Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertikal (negara) harus diluaskan menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal (masyarakat), serta menjadikan Pancasila sebagai landasan kritik atas kebijakan negara.

Peringatan Hari Kelahiran Pancasila sepatutnya  tidak berhenti pada proses seremonial, upacara bendera, tanpa menggali esensi Pancasila sebaga dasar Negara. Pemahaman dan pengamalan Pancasila menjadi hal yang utama untuk menangkal bahaya ideologi anti Pancasila dan merongrong NKRI. Sehingga (mengutip Yudi Latief)  yang harus kita tangkap dari peringatan Hari Lahir Pancasila itu bukanlah abunya, melainkan apinya.

Api kelahiran Pancasila adalah semangat berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme; semangat persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan; semangat membangun negara untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama. Saatnya kita jemput Pancasila dari almari kebangsaa untuk kita asah terus menerus di dalam sanubari kita, agar siap setiap saat dibutuhkan membela keutuhan NKRI.

 

 

 

 

Comments

comments