Artikel | Kenaikan Dolar dan Momentum Persatuan Masyarakat

1
192
Ilustrasi.

Oleh : Asri Winarni )*

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) telah menembus 15.000 per dollar AS. Sebelumnya, rupiah masih berada di sekitaran Rp 14.950. Kondisi dolar yang terus menguat ini mengingatkan akan situasi pada saat krisis moneter tahun 1998.

Pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga dialami hampir oleh semua negara berkembang. Beberapa faktor dalam perekonomian global ditengarai menjadi penyebab, diantaranya yaitu perang dagang AS-China, krisis mata uang di beberapa negara berkembang (Argentina, Turki, Venezuela, dan Afrika Selatan), dan normalisasi moneter di AS.

Hingga saat ini, pemerintah telah bergerak cepat untuk mengantisipasi dan  melakukan berbagai upaya untuk meredam penurunan rupiah. Beberapa langkah itu antara lain menaikkan pajak penghasilan barang impor,implementasi biodiesel, menunda beberapa proyek yang memiliki kandungan impor tinggi seperti proyek pembangkit listrik, serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam proyek-proyek pemerintah.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah telah siap siaga dan bergerak cepat dalam memperbaiki fundamental ekonomi guna menahan pelemahan rupiah dari kejatuhan lebih dalam. Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan para Menteri untuk meningkatkan koordinasi dan bekerja lebih keras untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia baik di sektor fiskal, moneter, maupun industri.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Muhdori menilai bahwa melemahnya mata uang rupiah ini tentunya berakibat pada industri dengan bahan baku yang berasal dari impor. Namun dia beranggapan bahwa pengaruh ini dinilai masih belum terlalu besar.

“Tentu ada ya bagi industri yang memang dominan menggunakan bahan baku impor itu sedikit terganggu cast flow-nya,” kata Muhdori.

Untuk mengantisipasi dominasi dolar tersebut, Muhdori menghimbau bagi para pelaku usaha agar mengurangi bahan baku dari luar. Pihaknya lebih menekankan untuk menggunakan bahan baku yang berasal dari dalam negeri, dengan begitu dapat mengurangi biaya impor.

Untuk mengurangi impor di bidang Migas, Pemerintah berusaha untuk membuat kebijakan baru mengenai biodiesel. Sektor migas ditengarai sebagai salah satu beban dalam neraca perdagangan di Indonesia, sekaligus menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah menerapkan kewajiban menggunakan biodiesel tipe B20. B20 adalah sejenis bahan bakar diesel yang memiliki performa sama seperti solar biasa.

Penggunaan B20 ini diproyeksikan sebagai sebuah alternatif untuk mengurangi impor minyak dan diprediksi akan memberikan penghematan sebesar US$ 2 miliar pada kuartal terakhir di tahun 2018. Melalui program ini diharapkan dapat memberikan efek positif pada perekonomian nasional.

Sementara itu, Bakal cawapres Sandiaga Uno mengajak dan menghimbau kepada seluruh masyarakat agar waspada dan bersatu mendukung kinerja Pemerintah untuk meningkatkan stabilitas nasional.

“Kita doakan Pak Jokowi. Kita waspada, karena ini (dolar AS terus naik) dampaknya untuk bangsa dan negara. Jangan kita melihat ini sisi politiknya, tapi dalam keadaan begini kita harus bersatu,” ujar Sandiaga.

Kondisi yang terjadi saat ini dimana dolar terus menguat dan menunjukkan dominasinya terhadap rupiah seharusnya menjadikan momentum bagi bangsa Indonesia untuk bersatu memperkuat ketahanan ekonomi.

“Ini saatnya kita bersatu untuk membantu pemerintahan ini. Jangan lihat lagi ini percampuran politik. Semua harus bersatu, karena ini dampaknya secara ekonomi akan segera, yakni akan menjadi, beban hidup akan semakin meningkat, dan harga-harga akan melonjak naik,” kata Sandi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa saat ini tengah berusaha untuk menjaga harga kebutuhan bahan pokok agar tidak meninggi. Selain itu, pihaknya saat ini juga fokus untuk menjaga tingkat inflasi nasional hingga akhir tahun sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah, yaitu 3,5%.

Sebagai rakyat Indonesia, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu Pemerintah.

Pertama, mulai untuk mencintai produk dari dalam negeri, dengan menggunakan produk dalam negeri maka akan semakin mengurangi impor barang yang sifatnya sama.

Kedua, dengan menunda untuk membeli handphone atau barang elektronik. Sebagian besar barang elektronik merupakan produksi dari luar negeri. Dengan membeli barang eletronik dari luar akan semakin memperburuk nilai tukar rupiah. Perusahaan Apple merupakan perusahaan yang paling menunjang pemasukan Amerika Serikat.

Ketiga, bagi warga negara Indonesia yang memiliki aset berbentuk dollar, mulailah untuk menukarnya kembali dalam rupiah. Kemudian yang ke empat, bagi warga negara Indonesia yang berencana untuk melakukan perjalanan atau liburan ke luar negeri, sebaiknya menunda rencana tersebut. Tanpa kita sadari hal tersebut ikut menekan rupiah semakin melemah.

Yang terakhir atau kelima, dengan menggunakan transportasi publik untuk berpergian. Indonesia saat ini masih tak bisa lepas dari impor migas. Sementara harga minyak dunia saat ini juga meningkat, untuk itu perlu adanya pengurangan konsumsi bahan bakar oleh masyarakat, salah satunya dengan menggunakan transportasi umum.

Menurunnya nilai rupiah saat ini sudah seharusnya disikapi dengan rasa persatuan dan mendukung segala upaya pemerintah. Seperti yang diketahui bahwa penguatan dolar Amerika Serikat didasari oleh faktor aktivitas ekonomi global, dan bukan merupakan kesalahan pemerintah. Untuk itu mari bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dengan berbagai upaya tersebut.

 

)*  Penulis adalah Mahasiswi Universitas Widya Mataram Yogyakarta

Comments

comments

1 COMMENT