Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

Kesan Pesta Kesenian Bali PKB) yang selalu ada pasar malamnya berimplikasi pada bergesernya paradigma pelaksaan kegiatan ini. Kemeriahan PKB selama sebulan penuh yang mengarah pada pasar malam akan cendrung mengarah pada paradigma ekonomi (orientasi profit). Meskipun penyelenggaraan PKB ada salah satu tujuannya untuk mendapatkan hasil dari segi ekonomi, namun muatan ekonomi harusnya lebih kecil porsinya dibandingkan dengan pelestarian budaya sebagai tujuan utama.

Ada konotasi pesta sebagai suatu perayaan pada kata Pesta Kesenian Bali (PKB) namun bukan berarti ajang perhelatan tahunan ini adalah sebuah pesta kemeriahan. Ajang ini bukan berarti pula sebagai wadah berjualan layaknya kemeriahan pasar malam. Namun ada penekanan terhadap kesenian Bali yang menjadi dasar dari terselenggaranya ajang ini yaitu sebagai pelestarian budaya Bali. Hal ini pun sesuai ide penggagas PKB (alm) Ida Bagus Mantra sejak tahun 1979 yang menekankan pada pelestarian budaya.

Dasar hukum pelaksaannya pun jelas menyebutkan bahwa ajang Pesta Kesenian Bali ini adalah pelestarian seni budaya Bali seperti yang dituangkan pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor   4 Tahun 2006 Tentang Pesta Kesenian Bali  “Pesta Kesenian Bali, selanjutnya disingkat PKB, adalah suatu bentuk kegiatan memelihara, menggali, menampilkan dan mengembangkan seni budaya Bali yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi”.

Mengacu pada perda  Provinsi Bali Nomor 4 tahun 2006 yang merupakan revisi dari Peraturan Daerah (Perda) Propinsi Bali Nomor 07 Tahun 1986 tentang Penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali tentu penekanan penting kegiatannya adalah seni Budaya Bali. Fokus kegiatan sesuai dengan perda tersebut adalah ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai ajang memelihara, menggali, menampilkan dan mengembangkan seni Budaya.

Kemudian Pelaksanaan Pesta Kesenian Bali yang dilaksanakan untuk pelesatarian budaya diwujudkan dalam 5 materi pokok Pesta Kesenian Bali yang meliputi : pawai, pagelaran, lomba/parade, pameran, sarasehan dan dokumentasi. Kelima pokok inilah yang menjadi kegiatan penting dari pehelatan ini sehingga kelima itu termuat seni budaya Bali. Materi pokok ini menjadi representasi dari penggalian, pengembangan, dan pelestarian budaya Bali.

Bahkan yang lebih penting lagi dari pembagian proporsi dari kegiatan tahunan ini seperti secara tegas telah termuat pada Perda Nomor 4 tahun 2006 adalah proporsi dari pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pelestarian budaya menjadi prioritas utama penyelenggaraannya dengan ditetapkan sebesar 60% sedangkan untuk kegiatan pengembangan budaya ditetapkan sebesar 40%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelestarian adalah konsentarasi utama dari kegiatan PKB sesuai dengan tujuan utamanya.

Memperhatikan hal itu maka sudah saatnya ajang tahunan Pesta Kesenian Bali ini berbenah dalam berbagai hal. Khususnya pada kesan pesta kemeriahan pasar malam menjadi hal penting untuk dikurangi. Pesta kemeriahan yang berupa pasar malam atau bahkan proporsi tempatnnya cukup besar menjadi kontradiksi terhadap pelaksaan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang tujuannya adalah untuk pelesatarian budaya sedangkan pasar malam kemeriahan produk modern.

Muatan Pesta Kesenian Bali sudah seharusnya dijauhkan dari kesan pasar malam yang notabena adalah kemeriahan pesta di pasar. Kesan ini akan hilang bilamana Pemerintah Provinsi Bali dengan tegas secara selektif memilih kelayakan pedagang untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan perdagangan. Proporsi pedagang lokal dengan penjualan produk-produk lokal yang mengarah pada nilai seni budaya daerah mesti mendapat perhatian utama sesuai dengan fokus utama PKB sebagai pelestarian budaya. Begitupula seni pertunjukan tradisi daerah harus semakin dimunculkan dan dikembangkan secara berkesinambungan.

Orientasi profit tentu menjadi sesuatu yang tidak bisa dikesampingkan juga dalam setiap ajang perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ini. Hasil dari pelaksaan PKB ini bahkan mencapai miliyaran rupiah setiap tahun khusus untuk biaya stand saja. Namun demikian hal ini juga tidak serta merta mengesampingkan roh dari PKB yaitu seni budaya Bali. Profit juga wajib memperhatikan keberlangsungan budaya sehingga tujuan dan cita-cita dari pelaksanaan kegiatan ini bisa tercapai.

Pelaksanaan PKB yang menjadi ikon Bali harus selalu berpedoman pada perda yang telah mengatur pelaksanaannya yang berlaku secara mengikat. Roh “seni budaya” juga harus pula menjadi pokok utama sebagai dasar pelaksanaannya. Budaya Bali inilah yang menghidupkan Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai jiwa dan telah melekat sepanjang tahun. Oleh karena jiwa ini tidak boleh dicabut atau dihilangkan secara semana-mana yang akan berakibat pada hilangnya “taksu” PKB itu sendiri.

Comments

comments