Artikel | Kapan Gunung Agung Meletus?

396
Gunung Agung (foto Supadma).

Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

 

Dua puluh hari Gunung Agung telah ditetapkan PVMBG pada level IV atau Awas sejak (22/9/2017). Hingga hari ini belum ada tanda-tanda erupsi terjadi. Sementara berbeda dengan Gunung lainnya yang ketika ditetapkan awas akan meletus dalam kurun waktu 24 jam.

Gunung Agung penuh misteri. Tak hanya sekala ahli vulkanologi, bahkan jalur niskala beberapa paranormal, balian, peramal pun tak juga mampu menembus misteri meletusnya Gunung Agung hingga hari ini pun masih nampak tenang-tenang saja.

Kenapa demikian?, wajar saja. Gunung Agung itu bukan sekedar gunung. Bukan juga sekedar jalur cincin api (ring of fire) yang hanya mengeluarkan panas perut bumi dalam menjaga keseimbangan alam.

Gunung bagi masyarakat Bali adalah hulu, bahkan tidak hanya di Bali selatan bahkan Bali utara pun masih tetap meyakini bahwa gunung adalah hulu. Begitupun Gunung Agung yang merupakan gunung yang tertinggi di Bali merupakan hulunya Bali.

Gunung Agung adalah lingga acala, diyakini umat Hindu di Bali sebagai tempat berstananya Dewa Mahadewa. Keyakinan siwaisme Siwa-Sidhanta di Bali telah mepusatkan Gunung Agung sebagai lingga terbesar di Bali yang merupakan pusat pemujaan Hindu Bali.

Gunung adalah lingga, lingga adalah  Siwa. Dewa Siwa adalah Dewa tertinggi bergelar Mahadewa. Dewa Siwa berwujud Mahakasih tetapi juga berwujud Maha Rudra ketika mengambil perannya dalam trikona sebagai prelina (pelebur).

Prelina itu pasti akan terjadi sebagai hukum rta yang dilakukan oleh Dewa Siwa. Tetapi tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan Dewa Siwa melakukan tugasnya melebur karena itu adalah kehendak-Nya.

Peristiwa alam yang terjadi adalah bagian dari kesadaran tentang hakekat diri. Sejauh mana telah melakukan perbuatan baik atau telah menjaga alam semesta sebagai bagian dari kesadaran Siwa hingga kemudian menuju proses peleburan.

Jadi atau tidak gunung Agung meletus itu kuasa Tuhan yang belum pasti bisa dijawab. Namun setidaknya dari peristiwa ini tumbuh kesadaran diri setiap orang akan Kemahakuasaan Tuhan yang tanpa batas dan kebersamaan (pabrayan) orang Bali adalah kekuatan besar untuk menjaga Bali Pulina.

 

Comments

comments