Artikel | Jangan Ditanya, Kita Memang “Mule Keto”

110
Ilustrasi.

Mule keto sudah menjadi keyakinan yang terkadang membuat sesuatu menjadi tidak terbantahkan lagi. Segala hal yang berkonotasi mule keto sudah tidak dapat diperdebatkan lagi karena telah memiliki nilai pembenaran secara turun-temurun.

Siapapun menyangkal mule keto diyakini melawan pembenaran atau tidak meyakini ketentuan yang telah ada sejak dahulu. Pengaruhnya pun cukup besar apalagi dibumbui oleh dogma dan mitos tertentu yang kemudian membuat membuat orang takut dan akhirnya terbawa arus mule keto.

Arus mule keto membuat orang tidak akan pernah mau belajar karena terdokrin oleh kepercayaan yang memang demikian adanya. Mule keto juga membuat kebingungan dan terkesan sebagi pengkaburan nilai kebenaran. Keyakinan ini juga sering tidak menjelaskan dasar pelaksanaanya dan hanya sebagai sesuatu yang pernah dilakukan sebelumnya atau sesuatu yang hanya cukup diketahui namun tidak boleh dipahami lebih jauh.

Keyakinan ini juga tidak cukup menjelaskan kebenaran atau salah, mule keto lebih cendrung mengarah pada menerima sesuatu yang memang demikian adanya. Banyak justru muncul dari keyakinan mule keto yang sumbernya pun dari mule keto sebelumnya. Muncul dari mule keto berkembang menjadi mule keto dan memunculkan mule keto lagi, sebuah perputaran yang tidak akan pernah terhenti jika tidak ada kemauan untuk diluruskan.

 

Aja Wera

Ajaran Hindu pun tidak memungkiri bahwa ada ilmu atau ajaran kerahasiaan yang tidak sembarangan untuk dilakukan.  Ketentuan aja wera yang menjadi acuan kerahasiaan dan peringatan terhadap ajaran yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan terkadang pula memunculkan mule keto.  Aja wera memang menjelaskan ada ajaran atau ketentuan yang tidak boleh dilakukan sembarangan, namun tidak mencakup semua ajaraan agama. Penekanan Aja wera terkait dengan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan karena terkait dengan keamaan, kenyamanan, dan kemungkinan penyelewengannya.

Konsep mule keto sebagai kepercayaan yang hanya bisa menerima dan pasrah terhadap kenyataan sesungguhnya cukup bertentangan dengan pola dasar kerangka agama Hindu. Ajaran Hindu adalah sebuah pola yang dilaksanakan diyakini dan memiliki dasar yang kuat. Agama Hindu bukan agama yang hanya dilaksanakan begitu saja, namun terpola dari tattwa (filsafat), susila (pelaksanaan) dan upacara atau upakara (ritual).

Tattwa merupakan dasar dari segala macam pelaksanaan keagamaan Hindu. Sebagai kebenaran tattwa  merupakan filosofi dan ketentuan kebenaran. Tertulis dan termuat secara jelas dalam sebuah ketentuan yang termuat di dalam kitab suci weda, sastra Hindu dan lontar-lontar sebagai penjabaran ajaran-ajaran Hindu yang dilaksanakan sesuai dengan kearifan lokal Indonesia dan Bali secara khusus. Tattwa inti dari kebenaran secara implisit jelas sumber dan ketentuannya.

Penjabaran dari tattwa kemudian adalah susila dan upacara atau upakara. Susila sebagai penjabaran tattwa yang berbentuk tingkah laku sikap pelaksanaan ajaran agama. Upacara atau upakara sebagai penjabaran tattwa yang berbentuk ritual dan segala macam persembahannya. Ketiga kerangka ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, antara dasar kebenaran dan pelaksanaannya secara nyata baik dalam bentuk sikap dan ritual keagamaan yang dilakukan beriringan dan  seimbang.

Memperhatikan hal tersebut maka keyakinan mule keto perlu dicerna dan dipahami mendalam. Menerimanya tidak secara mentah dan meyakini, namun perlu dicari kebenarannya. Mule keto yang memiliki unsur yang sama sekali tidak bisa diubah kerena menyangkut hal tertentu secara ketentuan desa, kala, patra biarkan demikian adanya, namun perlu juga dicari penjelasnnya kenapa di-mule keto-kan. Hal ini dipandang perlu untuk memahami dasar kebenaran yang menyebabkannya menjadi mule keto.

 

Turun Temurun

Sementara keyakinan mule keto  yang tanpa dasar namun diyakini secara turun-temurun perlu dipahami secara mendalam. Perlu adanya keberanian untuk melawan atau bergerak melewati arus ini sehingga muncul kejelasan. Mendobrak keyakinan di masyakat memang cukup sulit untuk dilakukan apalagi sudah menjadi keyakinan yang turun-temurun. Namun, jika didasari oleh kemauan yang kuat serta dijelaskan berdasarkan ajaran agama secara perlahan mule keto akan berubah menjadi berdasarkan weda, berdasarkan lontar ini dan berdasarkan kebenaran agama.

Generasi muda memiliki andil besar dalam meluruskan pandangan mule keto di masyarakat. Jika generasi muda larut dan mengikuti arus ini maka sampai kapanpun mule keto akan tetap ajeg menjadi keyakinan. Mule keto yang tidak berdasar juga dapat membuat lemah generasi muda Hindu yang hanya berdasarkan memang demikan adanya tanpa memegang dasar yang kuat sebagai landasan dasar.

Keyakinan mule keto sepatutnya dijelaskan dengan jelas dari sudut pandang kebenaran.

Kebenaran bersifat mencerahkan tidak malah membuat orang menjadi bingung dan mengalami kegelapan pikiran dalam kehidupannya. Hal ini agar tidak bertentangan dengan prinsip kebenaran yang  merupakan penerang bagi kehidupan dan melepas penderitaan seseorang tanpa menambah kebingungan ataupun kekeliruan dalam kehidupannya secara turun-temurun.

Seperti disebutkan pada sloka 16 kitab Saraccamuscaya yang berbunyi ”Kadi karma hyang Āditya, an mijil, humilangakȇn pȇtȇngning rāt, mangkana tikang wwang mulahakȇning dharma, an hilangakȇn salwiring papa”. Terjemahannya: seperti halnya matahari yang terbit menghilangkan kegelapan alam, demikian juga halnya orang yang melakukan kebenaran, akan menghilangkan segala penderitaan hidup (Sudharta, 2009: 10).

Oleh: I Wayan Supadma Kerta Buana

Mahasiswa Program Pascasarjana IHDN Denpasar

Comments

comments