Artikel | Jangan Buat “Founding Fathers ” Kita Menangis

102

Oleh : Ananda Mirsa

 

 

PANCASILA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

 

 

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan pancasila tersebut. Sebelum Pancasila terlahir, di negeri ini ada dua kubu yang saling berseteru, yaitu kubu sosialisme dan kapitalisme. Dengan kecerdasan dan kebijakan yang dimiliki oleh seorang Founding Father, akhirnya Pancasila terlahirkan. Pancasila bukan saja menjadi dasar negara. Pancasila juga sebagai pandangan hidup bangsa. Setiap isi dari sila yang ada, terkandung nilai-nilai peradaban negeri yang kita cintai ini.

Tetapi, pertanyaan mendasar yang perlu kita hayati secara mendalam adalah benarkah saat ini Pancasila masih berada di jalur sesuai dengan harapan para Founding Father Indonesia?

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini mengajarkan tentang sikap hormat menghormati antara pemeluk agama dan kepercayaan, membina kerukunan hidup antar umat beragama dan kebebasan menjalankan ibadah. Namun kondisi saat ini jelas jauh berbeda. Begitu banyak kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan agama. Begitu marak paham yang disebarkan untuk membenarkan satu paham, hingga akhirnya kita berseteru dengan saudara sendiri.

Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Mengakui persamaan harkat dan martabat sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Tidak membedakan suku, agama, ras dan antar golongan, karena kita adalah satu, bangsa Indonesia. Namun mengapa kita masih mempunyai pemikiran primordial, menghina maupun mencaci orang, dan kerap berlaku tidak adil dan kasar terhadap mereka yang lemah.

Kemudian Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi, mengapa saat bendera Merah Putih dikibarkan kita tutup mata, mengapa saat upacara bendera kita masih malas-malasan, bahkan merasa tidak berguna dna membuang-buang waktu serta mengapa lagu-lagu perjuangan sangat jarang kita dendangkan? Justru kita lebih senang dan hafal dengan lagu barat dibangdingkan lagu Kebangsaan yang seharusnya kita banggakan?

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaandalam permusyawaratan/perwakilan. Kita tentu tidak akan pernah lupa tentang upaya yang berpuluh tahun kita berjuang hanya untuk sebuah demokrasi. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan dengan etikad baik menerima dan melaksanakan hasil musyawarah serta tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Di dalam ruang sidang, Pancasila terpasang dengan penuh wibawa. Tetapi nyatanya, para pelaku sidang seakan tidak perduli. Tertidur waktu sidang, menonton film porno, bahkan saling lempar kursi dan menghujat satu sama lainnya. Kekerasan sering kali melatar belakangi aksi demo, bahkan pelaku demo lebih senang merusak fasilitas umum ketimbang merawatnya, apakah ini yang dimaksud dengan Demokrasi, Bermusyawarah untuk mufakat?

Terakhir Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tanpa disadari kita kembali kepada paham kapitalisme. Tidak pernah kenal siapa yang ada di sebelah rumah kita, tidak pernah perduli dengan apa yang dia lakukan dan kerjakan, tembok pagar antar warga seperti benteng penjara, aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Sikap dan suasana kekeluargaaan serta kegotong-royongan hampir tidak terdengar lagi. Hak melebihi kewajiban, keinginanpun melebihi kebutuhan.
Pada kondisi ini hal yang perlu kita cermati adalah masih relevankah pancasila di Langit dan Bumi Indonesia. Apakah kita rela jika Pancasila di hapuskan saja dan anggap tidak pernah terlahir sebagai Ideologi Bangsa Indonesia? Jika tidak, Apa yang perlu kita lakukan untuk mempertahankannya?

Kiranya hal ini lah yang dimaksud oleh Presiden Jokowi sebagai REVOLUSI MENTAL. Rakyat Indonesia harus menyelamatkan bangsanya sendiri, menyelamatkan negara dan bangsanya dari keterpurukan mental, kenistaan dan pengaruh buruk globalisasi. Kita perlu menyadari bahwa saat ini bangsa Indonesia secara perlahan-lahan akan kembali di jajah oleh asing, di jajah secara Moral, Budaya, Politik, Agama, Ekonomi, Pendidikan, Hukum, Hingga Pertahanan Dan Keamanan.

Dalam kondisi ini, tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan bangsa ini, kecuali para anak-anak negerinya sendiri. Jangan Buat Para Founding Father Menangis melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ayo Bangkit Para Pemuda-Pemudi Indonesia, Selamatkan Negaramu, letakkan Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa dan negara kita, Pancasila bukan pilar yang dapat dirobohkan, Pancasila adalah roh dan jiwa bangsa dan negara Indonesia yang kita pertahankan hingga titik darah penghabisan, mari kita jalankan dan amalkan nilai-nilai pancasila secara benar dan baik guna melindungi dan menjaga kepentingan nasional kita dalam rangka mencapat tujuan negara kita menjadikan bangsa Indonesia yang aman, sejahterah dan berkeadilan.

Ananda Mirsa : penulis aktif pada Lembaga Kajian Kedaulatan Kebangsaan.

Comments

comments