Artikel |Indonesia Bukan Hanya Bangsa Melayu

164

Oleh : Irvan Karim

Polemik akan perbedaan etnis, ras, suku dan agama terus bergulir dan selalu menimbulkan masalah-masalah baru di Indonesia. Pandangan seperti ini seolah-olah masyarakat Indonesia melupakan tujuan awal kemerdekaan bangsa.

Bahwa sejak masa kemerdekaan, Indonesia tidak terbentuk hanya karena perjuangan suku Jawa, Sunda, Melayu. Indonesia terbentuk karena perjuangan dari multiras dan multietnis yang artinya Indonesia terbentuk karena keberagaman yang saling menyempurnakan untuk menjadi satu kesatuan bangsa yang kuat.

Tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, bangsa ini masih terjebak dan terkotak-kotakan oleh perbedaan suku, ras, etnis dan agama (SARA). Setiap kelompok merasa kelompoknya lebih superior dari kelompok lain dan ada juga kelompok yang merasa tertindas hingga tidak merasakan semangat persatuan bangsa.

Salah satu bentuknya adalah adanya gerakan separatis seperti kelompok Organisasi Papua Merdeka. Kelompok ekstrimis ini sering melakukan tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap masyarakat tidak bersalah hingga kepada aparat pemerintah. Mereka merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah sehingga berfikir bahwa Indonesia hanya bangsa Melayu.

Secara fisik, orang asli Papua memang sangat jauh berbeda dengan ras Melayu. Ras melayu berkulit sawo matang dan berambut lurus, sedangkan ras melanesia berkulit hitam dan berambut keriting.Bahkan cukup sering kelompok maupun organisasi non pemerintahan (NGO) seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) meminta dukungan pemerintah negara-negara ras Melanesia di Pasifik (Papua New Guinea, Vanuatu, Kepulauan Solomon, Fiji dan Kaledonia Baru).

Kelompok yang dipimpin oleh Benny Wenda ini melakukan propagandanya melalui berbagai cara hingga selalu menuding pemerintah Indonesia selalu melakukan pelanggaran HAM terhadap ras Melanesia di Papua. Padahal pada ujungnya yang mereka inginkan adalah kemerdekaan bagi Papua.

Propaganda-propaganda yang dilakukan oleh kelompok ini dapat dilihat dari website-websitenya. Seperti pada freewestpapua.org sangat jelas bahwa konten dari website ini berisikan berita negatif yang berisikan tudingan pada pemerintah Indonesia. Sangat jelas pula bagaimana mereka memarginalkan diri sebagai bagian dari ras Melanesia bukan sebagai Bangsa Indonesia. Kita dapat menilai bahwa bentuk gerakan ini adalah bentuk semangat yang ingin memecahkan bangsa.

Jika ditelusuri lebih jauh, tentunya dapat kita sadari juga bahwa adanya kepentingan asing dibalik pergerakan kelompok ini. Ada beberapa hal penting yang harus kita kritisi bersama. Jika mereka ingin HAM ditegakkan di Papua, mengapa mereka melakukan tindakan ekstrim yang justru menciptakan kerusuhan?

Apakah benar seluruh orang Papua ingin merdeka dari Indonesia? Jikapun mereka memerdekakan Papua, apakah Papua akan lebih maju? Mengapa mereka begitu gencar membentuk tim pencari fakta HAM di Papua, sedangkan selama ini yang kita ketahui bahwa kerusuhan dan konflik di Papua dipicu karena adanya intervensi asing itu sendiri? Apa mungkin akan ada skenario konflik berikutnya untuk menuding pemerintah Indonesia melakukan pelanggaran HAM? Lalu jika memang yang terjadi HAM, mengapa selalu ditekankan dengan perbedaan ras?

Melalui pergerakan dan isu yang diangkat oleh kelompok Benny Wenda ini terlihat adanya sikap rasisme. Sikap ini muncul karena adanya sifat egois dan keindividuan. Sifat yang sangat berbahaya karena dia telah menyebarkan virus rasis dan logika logika sempitnya untuk mempengaruhi orang orang yang dianggapnya bangsa Melanesia.

Suatu bangsa akan sangat mudah terpecah dengan adanya rasisme ini. Seharusnya dia dapat melihat dunia lebih luas, bangsa Amerika saja dapat menjadi bangsa yang besar padahal memiliki etnis yang cukup beragam. Apakah kelompok ini benar-benar ingin maju atau cuma kepentingan kelompok hingga mengorbankan masa depan Papua dengan sikap rasisnya.

Suatu bangsa kuat karena bangsanya sendiri, karena bangsanya yang bersatu dan berfikir bijak. ras Melanesia merupakan bagian dari Indonesia dan bahkan tidak hanya ada di Papua, tetapi juga tersebar di Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Pepatah mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Pepatah ini cocok untuk menggambarkan sikap rasisme yang menyebabkan perpecahan.

ULMWP mungkin juga tidak menyadari bahwa di Papua pun terdiri dari banyak suku. Pemikiran rasis yang dibawanya pun mungkin akan menyebabkan Papua semakin terpecah ada orang pegunungan, ada orang pantai, orang Jayapuara dan Timika. Dengan demikian, sikap rasisme harus dihilangkan dari bangsa ini agar terjaga rasa persaudaraan antar anak bangsa.

Dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, membutuhkan peran aktif dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah media massa. Melalui peran media massa akan dapat mengkomunikasikan perkembangan Papua secara positif sesuai fakta dilapangan tanpa adanya kecenderungan tertentu. Media masa juga ikut mengawasi pembangunan yang telah berjalan di Papua.

Dan bahkan tidak hanya di Papua saja akan tetapi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, tidak akan ada cemburu sosial antar suku, ras, etnis dan agama. Sehingga Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan maju.

*Irvan Karim : Penulis adalah Pengamat Sosial

Comments

comments