Artikel | Beragama Perlu Tindakan, Tak Cukup Hanya Berpengetahuan

189

Oleh: I Wayan Supadma Kerta Buana

Memiliki pengetahuan ilmu agama yang luas belum tentu menjamin seseorang telah menjadi orang agamawan. Tingkat srada dan bhakti seseorang sulit untuk diukur karena secara jelas tidak ada disebutkan tolak ukur untuk menentukannya. Bahkan setiap orang yang berpenampilan agamawan belum tentu memiliki kualitas sradha dan bhakti yang tinggi ataupun sebaliknya seorang tanpa berpenampilan agamawan belum tentu juga dikategorikan berkualitas rendah.

Beragama bersifat pribadi yang dilakukan oleh masing-masing orang sesuai dengan keyakinannya. Berkeyakinan dasarnya adalah kepercayaan dalam agama Hindu disebut sradha sehingga dianut oleh masing-masing orang. Agama sebagai ajaran tetap yang mengatur tentang perilaku baik dan benar dengan berdasarkan kebenaran hakiki yang sumbernya dari kebenaran Tuhan. Ajaran agama mengajarkan tentang hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan untuk mencapai kedamaian.

Bahkan Negara secara tegas melindungi kebebasan beragama setiap warganya sesuai Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang berbunyi “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Dalam menjalankan ajaran agama harus dilakukan secara seimbang dan harmonis. Beragama dilakukan tidak untuk pamer ataupun menunjukan diri sebagai orang baik. sikap dan tindakan nyata adalah hal yang penting dilakukan dalam beragama. Tindakanan inilah sebagai implementasi dari ajaran agama dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa tindakan nyata meskipun kualitas spiritual tidak bisa diukur namun secara sosial dapat dikatakan sebagai keberhasilan dalam beragama.

Pengetahuan ilmu agama menjadi dasar dari setiap tindakan beragama kemudian diimplementasikan dalam tindakan nyata. Hal ini penting mengingat berpengetahuan agama harus tegak lurus dengan berperilaku baik. Ajaran agama Hindu juga jelas menyebutkan bahwa dalam ranah pengetahuan dan tindakan nyata harus dilakukan secara seimbang.
Tri kerangka dasar agama Hindu telah mengatur dengan jelas terkait dengan tindakan dan pengetahuan. Tattwa, susila dan upacara adalah dasar dalam setiap pelaksanaan agama Hindu. Tattwa adalah konsep ajaran dasar tentang keyakinan kebenaran Tuhan.

Tattwa adalah dasar intisari dari ajaran agama yang dalam menjabarakannya disebutkan sebagai panca sradha (lima keyakinan pokok) Widhi sradha menurunkan ajaran Widhi tattwa, attma menurunkan ajaran attma tattwa, karmaphala sradha menurunkan ajaran kharmaphala tattwa, punarbhawa sradha menurunkan ajaran punarbhawa sradha dan moksa sradha menurunkan ajaran moksa tattwa.

Susila yang dapat diartikan su baik dan sila perbuatan dimaknai sebagai tindak yang dilakukan oleh setiap orang yang berdasarkan atas kebaikan. Susila erat kaitannya dengan pengendalian diri dan pelaksanaan tingkah laku baik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian tiga kerangka dasar ketiga yakni upacara yang merupakan pelaksanaan secara ritual sebagai acara agama. Upacara dilakukan dalam bentuk panca yadnya yakni Dewa yajna (persembahan kepada Tuhan), Pitra yajna (persembahan suci kepada leluhur), Rsi yajna (persembahan suci kepada para sulinggih), manusa yajna (persembahan suci kepada sesama manusia) dan Butha yajna (persembahan suci kepada para butha).

Dalam pelaksanaan agama ketiga kerangka wajib menjadi acuan dan pedoman dalam menjalankan ajaran agama. Tattwa berada pada ranah pengetahuan yang menjadi dasar dan ketentuan kebenaran ketuhanan. Kemudian dalam penjabarannya dilakukan secara aplikatif melalui susila (perbuatan baik) dan upacara (acara agama). Dengan demikian, pengetahuan agama menjadi sangat penting untuk dikuasai dan didalami serta akan menjadi lebih sempurna jika kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Comments

comments