Arsip 1928 | Bali yang Dinamis dan Terbuka

29
Para narasumber yang membahas arsip Bali 1928 di Fakultas Ilmu Budaya UNUD (foto rk)

SULUH BALI, Denpasar – Kebudayaan Bali itu tidak merupakan satu entitas atau seragam. Kebudayaan Bali itu dinamis, tidak statis. Dan kebudayaan Bali itu sangat terbuka.

“Namun selama 50 tahun terakhir ini, budaya Bali ada dalam suasana defensif, ” ungkap Wayan Juniarta saat jadi narasumber pada seminar seri sastra dan budaya, Repatriasi, Hegemoni dan Perspektif Politik Kebudayaan Bali, di ruang sidang Dr. Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Selasa (22/8).

Keadaan defensif itu, menurut Juniarta, memunculkan ketakutan, kecemasan, kecurigaan bahwa akan ada hal yang menggerus, mendesak dan menghilangkan kebudayaan Bali. “Apalagi bila ada anggapan dan merasa sebuah kebudayaan tersebut pernah mengalami masa keemasannya. Hal inilah yang bisa menimbulkan sebuah fundamentalisme kebudayaan,” urai Juniarta.

Seminar yang membahas dan menampilkan beberapa arsip Bali 1928 itu dia melihat sebuah sikap dari masyarakat Bali yang sangat terbuka. “Coba perhatikan film dokumentasi di tahun 1928 itu. Orang Bali dengan senang hati direkam dengan kamera. Tidak ada sikap curiga, atau takut sepeerti di tempat lain, yang katanya kalau difoto misalnya, rohnya akan hilang,” tandasnya.

Begitupun terhadap keyakinan. Masyarakat Bali dengan terbuka menerima nama-nama Dewa, yang menurut istilahnya sebagai nama “impor”. “Ada Dewa Subandar, Dewi Kwan Im, dan seterusnya,” ungkap wartawan senior ini. Hal tersebut menurutnya bahwa kebudayaan Bali sangat terbuka, dinamis dan tidak seragam atau uniform.

Begitupun terhadap pertanyaan seorang peserta seminar yang sekaligus mengungkapkan kecemasannya terhadap perubahan minat sebagaian negara pemasok turis yang tidak lagi tertarik terhadap wisata budaya.

“Orang Bali tidak melakukan budaya untuk turis. Ada atau tidak ada turis, orang Bali berkebudayaan by nature, alamiah saja. Tidak ada pilihan. Segala sesuatu harus benar, suci dan indah. Misalnya alas banten atau sajen mesti dibuatkan alas berupa tamas. Tidak mau sekedar menggunakan piring misalnya. Kita juga, betapapun akan kembali ke banjar. Dadong saya akan tetap merasa happy membuat canang,” ungkapnya.

Selain Wayan Juniarta, seminar tersebut juga menghadirkan narasumber Dr. Edward Herbst, Marlow Bandem dengan moderator Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M,.Hum.

Arsip Bali 1928 merupakan hasil pemugaran, penyebaran, dan pemulangan kembali warisan pusaka seni dan budaya Bali dari tahun 1930-an. Termasuk puluhan rekaman komersial ‘long lost recordings’ piringan-piringan hitam karya label rekaman Jerman, Odeon & Beka yang dilakukan pertama kalinya di Bali pada tahun 1928-1929. Kemudian rekaman-rekaman film 16 mm yang dilakukan oleh peneliti-peneliti berpengaruh. Seperti Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Mare.

Terakhir puluhan foto-foto tentang masa kesejarahan modern Bali pada masa tahun 1930-an oleh Colin McPhee, Walter Spies, Arthur Fleischmann, Jack Mershon dan lain-lain.

Arsip Bali 1928 berangkat dari upaya Dr. Edward Herbst yang dengan tekun selama bertahun-tahun mengumpulkan aneka piringan hitam pada masa Bali sekitar tahun 1928-1929 dikumpulkan dari berbagai pusat arsip di seluruh dunia.

Film-film tersebut tak hanya berkisah tentang panorama alam Bali di masa tahun 1930-an. Namun juga mengungkap tokoh-tokoh dan sekaa-sekaa legendaris Bali. Seperti Ida Boda, I Marya, I Sampih, I Gede Manik, Gong Jineng Dalem, Ida Pedanda Made Sidemen, I Gusti Ketut Kandel, I Made Sarin, Ni Nyoman Polok & Ni Luh Ciblun (Legong Kelandis).

Kemudian ada Gamelan Pelegongan Kapal, Ni Gusti Made Rai & Ni Gusti Putu Adi (Legong Belaluan), I Wayan Lotring, (Gamelan Gender Wayang Kuta), dan lain-lain.

Cuplikan-cuplikan lain termasuk pementasan Barong Kebon Kuri, Gambang di Pura Kawitan Kelaci, Legong Saba, Gamelan Gong Luang Singapadu, Baris Goak Jangkang Nusa Penida, Janger Kedaton, Gamelan Geguntangan Batuan, Barong Landung, Janger dan lain-lain.

Beberapa ritual penting seperti upacara Nangluk Merana di Pura Beda Tabanan dengan Joged Bungbung Dewa, Mendet di Pura Dalem Sayan Ubud. (SB-Rk).

Comments

comments