Arjaya sedang memberikan paparan diantara para kandidat walikota Denpasar lainnya.

SULUH BALI, Denpasar – Amanat Undang-Undang yang mensyaratkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, diarasa masih sekedar angan-angan. Karena kenyataannya warga masih merasakan beban berat untuk dapat mengenyam pendidikan untuk putra-putrinyat. Masih banyak dijumpai di lapangan biaya-biaya lain atau pungutan yang bukannya sukarela, tapi sukapaksa.

“Sering kita jumpai di lapangan, warga mengeluhkan biaya pendidikan di kota Denpasar ini. Hingga banyak warga yang mengeluh bahkan sampai demo, akibat beban biaya pendidikan yang terlalu tinggi. Sering mereka dibebani oleh biaya-biaya, bukannya sukarela tapi sudah sukapaksa,” ungkap Made Arjaya saat debat calon Walikota dan Wakil Walikota. Jumat malam (25/9/2015).

Untuk itu, Arjaya bertekad bila dirinya nanti diberi kepercayaan memimpin kota Denpasar, akan menghilangkan biaya-biaya yang membebani termasuk iuran-iuran “sukapaksa” tersebut. Menurutnya, apapun kebijakan kita dalam pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, baik itu untuk pendidikan, kesehatan maupun infrastruktur kita akan selalu koordinasi baik dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

Bagi Arjaya, untuk menghadapi tantangan dan persaingan yang dihadapi dunia kerja ke depan harus dihadapi dengan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang terdidik. “Persaingan tenaga kerja ke depan seperti berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) maupun persaingan global, harus dijawab dengan pendidikan dan ketrampilan yang bagus. Itu kuncinya,” ungkap calon Walikota dengan ciri khas udeng poleng dan baju merah ini.

Menanggapi tudingan Arjaya tersebut, Rai Dharmawijaya Mantra sebagai calon walikota, yang kebetulan sudah pernah menjabat sebagai Walikota Denpasar pun menjawab diplomatis. Ia katakan biaya-biaya maupun iuran yang dikenakan sering karena kesepakatan, bukan memaksa. Menurutnya itu terjadi biasanya karena pihak sekolah dan komite orang tua siswa yang ingin memaksimalkan prestasi bagi anak didiknya. Sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan itu dipakai untuk menunjang kegiatan peningkatan kemampuan dan ketrampilan bagi siswa. “Seperti misalnya dalam mempersiapkan siswa menghadapi olimpiade,” ungkap calon Walikota nomor urut 1 ini.

Debat calon Walikota dan Wakil Walikota yang diikuti oleh 3 pasang calon ini, panggung debat nampak dikuasai oleh Made Arjaya (nomor urut 3) dan Rai Dharmawijaya Mantra (nomor urut 1). Karena pasangan calon nomor urut 2, Ketut Resmiyasa – IB Batu Agung Antara hampir dalam setiap menjawab pertanyaan yang diberikan panelis lewat moderator Anak Agung Oka Wisnu Murti, hanya memberikan jawaban singkat-singkat dan pendek. Padahal masih banyak waktu tersisa. Acara debat dengan durasi 90 menit yang disiarkan langsung sebuah stasiun TV lokal tersebut berlangsung tertib, meski masing-masing pasangan calon lengkap membawa pendukung yang memenuhi ruangan Ball Room Aston Hotel. (SB-rka).

Comments

comments