Arjaya-Sunasri Kedepankan Pendidikan Bagi Masyarakat Kecil

79
Made Arjaya saat bicara di podium PB3AS Renon. |foto-rka|

SULUH BALI, Denpasar – Mahalnya biaya pendidikan, dan persoalan sulitnya kesempatan sekolah bagi sebagian masyarakat (khususnya masyarakat kecil) Denpasar menjadi perhatian khusus bagi Pasangan calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar nomor urut 3, I Made Arjaya-AA Ayu Rai Sunasri (AS).

Bahkan sebagaimana yang tertuang dalam salah satu programnya, mewujudkan masyarakat Denpasar yang berprestasi dan mencetak generasi yang mampu bersaing baik ditingkat nasional dan internasional, dan sebagai langkah untuk pemerataan pendidikan, Paslon yang diusung dan didukung oleh partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Bali Mandara Merah Putih (KBMMP) seperti Demokrat, PKS dan Golkar ini akan menggalakkan program wajib belajar (wajar) 12 tahun secara gratis.

Seperti ditegaskan Calon Wali (Cawali) Kota Denpasar, I Made Arjaya. Saat dikonfirmasi, Rabu (4/11) kemarin, politisi yang akrab dengan sapaan “Si Udeng Poleng” ini menjelaskan, program wajar 12 tahun itu sebagai salah satu komitmen pemerintah untuk mewujudkan pemerataan pendidikan, khususnya bagi masyarakat kecil. “Faktanya, bagaimana masyarakat dituntut menyekolahkan anaknya, sementara biaya pendidikan sangat tinggi,”tanya Arjaya yang merupakan salah satu putar dari sesepuh dan tokoh PDIP Asal sanur, Almarhum Nyoman Lepug ini.

Untuk itu, jika nantinya terpilih, sebagai komitmennya di bidang pendidikan, maka dalam salah satu programnya, wajar 12 tahun menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan pendidikan yang layak kepada masyarakat.

Selain itu, sebagai bentuk terobosananya di bidang pendidikan, dengan pola pendidikan dan kurikulum yang masih terkesan kaku dan formalistis, Paslon yang mengusung visi dan misi “Menuju Perubahan Denpasar Pagi Bersih Malam Terang dan Mewujudkan Denpasar sebagai Kota Taman yang Mandara” ini ingin menawarkan pola dan arogan pendidikan bersahabat, ramah, manusiawi, berwawasan lingkungan, dan beretika.

Pendidikan, kata mantan ketua komisi 1 DPRD Bali ini, tidak boleh memisahkan anak dengan keluarganya. Karena bagaimanapun, kata Arjasa, keluarga merupakan sarana pendidikan utama.”Pendidikan budi pekerti tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah, bersama keluarga,” ujarnya.

Termasuk yang tidak kalah penting adalah pendidikan yang berbasis IT (Ilmu dan Teknologi). “Melalui IT, kami yakin, semangat mewujudkan generasi yang berprestasi dan mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional akan tercapai,”pungkasnya. (SB)

Comments

comments