Arjaya : Saya Sudah Duga Megawati Setuju Reklamasi Teluk Benoa

0
12863
Megawati dan Made Arjaya (foto net)

Digagas Partai Besar

SULUH BALI, Denpasar — Pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di sejumlah media, bahwa dirinya setuju dengan adanya Reklamasi Teluk Benoa, yang disampaikan saat jumpa pers di kantor PDI-P Bali, Minggu (22/11/2015) ditanggapi biasa oleh politisi Made Arjaya. “Saya sudah duga Ibu Megawati pasti setuju. Karena sudah saya katakan soal Reklamasi Teluk Benoa itu berasal dari partai besar, yaitu PDI-Perjuangan,” jelas mantan anggota DPRD Bali dari PDIP ini yang ditemui di Denpasar, Rabu (25/11/2015).

Soal reklamasi di Teluk Benoa, Badung, setahu dirinya memang digagas oleh partai besar yaitu PDI-P. Karena itu, rekomendasi awalnya datang dari DPRD Bali yang ditandatangani oleh Ketua DPRD Bali AA.Ratmadi ditujukan kepada eksekutif Nomor 660/14278/DPRD. Lalu gubernur mengeluarkan SK Keputusan Nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan, Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa Provinsi Bali pada tanggal 26 Desember 2012.

“Yang banyak tidak diketahui, bahwa sebelum ada rekomendasi sejumlah petinggi partai mendesak gubernur Bali mengeluarkan SK tersebut. Namun gubernur meminta agar DPRD Bali terlebih dahulu memberikan rekomendasi. Setelah rekomendasi dikirim, baru gubernur mau menandatangani SK tersebut.”

Kata Arjaya, waktu itu Made Mangku Pastika adalah Gubernur Bali dan AA Puspayoga adalah Wakil Gubernur Bali (masa bakti 2008-2013). Arjaya menjelaskan, ketua DPRD Bali AA Ratmadi adalah kakak satu ayah lain ibu dari AA Puspayoga. Sementara itu AA Ratmadi yang biasa dipanggil Cok Rat adalah Ketua PDIP Bali dan pasangan Pastika dan Puspayoga diusung oleh partai PDIP pula, “Sementara saya adalah Ketua Komisi 1 DPRD Bali dari fraksi PDIP,” jelas putra salah satu pendiri PDI-Perjuangan Nyoman Lepug.

Disisi lain, kata tokoh asal Sanur ini, ada hubungan yang sedang memburuk antara Mangku Pastika dan wakilnya AA Puspayoga. Setelah melewati sejumlah proses politik, akhirnya pasangan ini pecah kongsi dalam upaya kembali memegang tampuk pimpinan pada periode berikutnya, “Mangku Pastika berpasangan dengan Ketut Sudikerta (PastiKerta), diusung partai Golkar, Demokrat, PAN, PKPI, Gerindra, Hanura, PKPB, PNBK, dan Partai Karya Perjuangan (Koalisi Bali Mandara). Sedangkan AA Puspayoga berpasangan dengan Dewa Sukrawan (PAS) diusung oleh PDI-P.”

Pemilihan Gubernur Bali

Selama proses Pemilihan Gubernur di tahun 2013 ini, tidak ada yang menyentuh SK 2138/02-C/HK/2012. Namun berlanjut dengan kekalahan PAS pada pemilihan yang berlangsung 15 Mei 2015, isu tentang reklamasi ini mulai muncul. Semakin panas, menjelang pelantikan PastiKerta 29 Agustus 2013 , baik dari politisi, akademis maupun aktivis memulai memasalahkan SK ini dan meminta agar SK tersebut dicabut.
Pada tanggal 16 Agustus 2015 Gubernur Pastika mencabut SK 2138/02-C/HK/2012 setelah menerima rekomendasi dari DPRD Bali nomor 900/2569/DPRD tertanggal 12 Agustus 2013.

Aksi kemudian berlanjut kembali dengan agenda meminta Gubernur mencabut SK Gubenur No. 1727/01-B/HK/2013 tentang Izin Studi Kelayakan Rencana Pemanfaatan Pengembangan dan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa yang dikeluarkan pada tanggal 16 Agustus 2013. Izin ini diberikan pada Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) yang dimiliki oleh konglomerat Tommy Winata.

Persoalan pro-kontra Reklamasi ini terus berlanjut, karena selain ada kelompok yang menolak, muncul pula kelompok yang Pro-reklamasi. Dan semakin marak setelah munculnya Perpres 51 tahun 2014 yang dinilai aktivis Tolak Reklamasi memberi ruang terjadinya reklamasi di Teluk Benoa. Perpres tersebut ditandatangani oleh Presiden Soesilo Bambang Yodhoyono (SBY). Kini para aktivis Tolak Reklamasi sedang memperjuangkan agar Presiden Joko Widodo mencabut Perpres 51 tahun 2014.

Aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa terus berlanjut dan terakhir pada Jumat (20/11/2015) di Denpasar. “Memang sebuah ironi, karena dua hari kemudian Ketua Umum PDI-P Megawati bicara memberi angin pada ativitas Reklamasi Teluk Benoa. Walau ada sedikit bicara AMDAL, Ibu Megawati seperti ditulis di sejumlah Media meminta wartawan tidak salah kutip ucapannya.” Arjaya memberi contoh berita di Bali Post (Senin, 22/11/2015), ada kutipan mantan Presiden ini yang bicara tentang Reklamasi Teluk Benoa, “Jangan sampai ditulis saya tidak setuju Reklamasi.” (SB-wan)

 

Comments

comments