Arief Yahya | Wisata Syariah Bukan Soal Agama

9682
Menteri Pariwisata Arief Yahya. |foto-ijo|

SULUHBALI, Mangupura — Bila Bali mau menyelenggarakan wisata syariah, penekanannya bukan dari segi agama, tapi lebih pada sisi pelanggannya. Begitu disampaikan Menteri Pariwisata, Arief Yahya ditemui disela-sela acara Musyawarah Daerah Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Bali, Sabtu (21/11/2015).

Ditambahkan Arief, ada dua tipe customer dalam soal memilih makanan. Ada yang berkompromi sehingga tidak ada yang bermasalah bagaimana makanan itu dihidangkan. Tapi ada juga yang mementingkan masalah kehalalan.

“Yang disebutkan syariah disini khususnya dari segi makanan, karena ada yang ingin makanan yang sudah tersetifikasi halal,” jelas Arief, “Jadi ini bukan pada soal agama, tapi lebih pada lifestyle saja.”

Arie mencontohkan pariwisata Thailand bukan negara muslim, tetapi hampir 5 juta wisatawan mereka adalah muslim. Sedangkan Singapura hampir 4 juta wisatawannya adalah muslim.

“Semuanya balik lagi ke kita, ada customer seperti ini mau kita tanggap atau tidak. Bila tidak maka akan diambil orang lain. Tetapi kalau semuanya sepakat menangkap jadi peluang harus disiapkan restoran dan dapur yang bersifikasi halal,” tegasnya.

Yang sedang dikembangkan di kementriannya, kata Arief adalah destinasi wisata Syariah dan Ziarah memiliki potensi yang besar sekitar 12 juta customer dan bisa ditingkatkan menjadi 18 juta customer. Ini bisa terjadi, karena destinasi pariwisata Indonesia dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata syariah, dan dinilai mampu untuk merebut pasar wisata syariah secara Global.

“Wisata Ziarah yang baru kita bisa rumuskan itu baru yang walisongo (sembilan wali),” ujarnya. Arief menambahkan, Kementerian Pariwisata akan memberikan anggaran sebesar 1 miliar untuk satu destinasi dan untuk amenitasnya akan difokuskan pada sistem sanitasi, “Kan selama ini di tempat-tempat ziarah, untuk sistem sanitasi dan juga toilet juga kurang bagus dan kita juga akan bantu,” tambahnya. (SB-Ijo).

Comments

comments

Comments are closed.