Antisipasi Meningitis | Jangan Makan “Olahan Daging Babi” Kurang Matang

217
Pengolahan daging babi dalam sebuah komunitas di kampung (foto wan).

SULUH BALI, Denpasar — Ketua Asosiasi Ilmuan Peternakan (AIP) Universitas Udayana Prof Komang Budarsa mengimbau masyarakat agar tidak takut mengkonsumsi daging babi akibat isu penyakit meningitis streptococcus suis (MSS) atau meningitis babi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir akan kesehatan daging babi saat ini, karena dari hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali sudah menyatakan sampel darah babi di sejumlah daerah negatif,” ujar Prof Komang Budarsa selaku Ketua AIP Unud di Denpasar, Kamis (16/3/2017).

Ia mengatakan, akibat isu yang tidak benar di media sosial terkait penyakit meningitis babi saat ini, membawa dampak besar terhadap perekonomian masyarakat di Pulau Dewata khususnya terhadap para peternak babi dan penyedia kuliner dengan olahan daging tersebut.

Komang Budarsa dalam acara diskusi kajian ilmiah streptococcus suis yang digelar Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Peradah Badung dan BEM Peternakan Unud itu menegaskan, masyarakat harus mendapat edukasi penyakit MSS itu.

“Tidak semua babi yang ada di Bali terjangkit atau terinfeksi MSS, sehingga masyarakat di Pulau Dewata jangan takut mengkonsumsi daging babi, karena apabila daging itu diolah dengan higenis dan benar-benar matang maka kuman yang ada di dalamnya akan mati,” ujarnya lagi.

Ia menjelaskan, gejala babi terinfeksi penyakit itu adalah terjadi pembengkakan pada sendi kaki hewan tersebut, babi tidak mau makan, kulitnya terlihat kemerahan, terdapat ingus dan ngorok, maupun adanya batuk darah pada hewan itu.

“Penularan penyakit ini dapat melalui kontak kulit babi yang terinfeksi, khususnya kulit babi yang terluka, mengkonsumsi daging babi yang masih mentah atau diolah tidak matang,” ujarnya.

Sehingga untuk pencegahan penyakit ini dari hewan ke hewan, maka wajib dilakukan pembersihan kandang dengan desinfektan setiap seminggu sekali, menjaga kebersihan tempat pakan babi, tidak memberikan pakan sisa dari hewan yang sakit, jangan memotong babi yang sakit dan tidak membuang limbah secara sembarangan.

Ia menilai, daging babi aman dari bakteri penyakit itu apabila dimasak dengan suhu di atas 56 derajat celcius. “Untuk masyarakat yang doyan mengkonsumsi daging babi guling tidak perlu khawatir, karena babi guling dimasak selama dua jam dengan suhu panas arang 110 derajat celcius,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPK Paradah Badung I.B Angga Purana Pidada menambahkan, masyarakat tidak perlu cemas dengan daging babi yang saat ini dijual dipasaran, karena sudah dinyatakan negatif tidak terinfeksi MSS.

“Hal ini kita sudah sempat tanyakan kepada dinas terkait melalui tim peneliti kita yang menyatakan bahwa, daging babi di sejumlah daerah yang telah diambil sampel tidak terinfeksi MSS,” ujar Angga. (SB-ant)

 

Comments

comments