Antara Kerauhan, Kesurupan dan Kerangsukan (1)

317
Foto sebuah prosesi yang kerap menghadirkan kerauhan.

SULUH BALI, Denpasar – Kita sering mendengar maupun menyaksikan langsung seseorang sedang  mengalami kerauhan. Begitu pula sering ada kejadian kesurupan massal, yang dialami oleh siswa di sekolah. Ada lagi yang disebut dengan kerangsukan.

Apakah ketiganya sama ? Menurut Dr. Komang Indrawan, S.sn., M.fil.H ketiga hal tersebut sesungguhnya berbeda.

“Ketiganya jelas berbeda. Ketika kita bicara tentang kerauhan, kesurupan dan kerangsukan itu ada di ranah sakral dan ranah provan. Tenget dan sing tenget. Kalau sudah bicara kerauhan pasti sudah bicara masalah sakralisasi. Kan tidak mungkin di dagang kopi kita kerauhan, nunas bishama ?

Etikanya sudah tidak benar seperti itu. Apalagi kerauhan, me eka jati belum, mewinten belum, mebersih, melukat belum,” ungkapnya.

Hal itu dia jelaskan saat menjadi salah satu narasumber pada seminar bertema : Fenomena Kerauhan di Jaman Now, yang diselenggarakan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Denpasar, bertempat di Gedung Wanita Shanti Graha, Denpasar, Minggu sore (11/2/2018).

Selain Dr. Komang Indrawan, S.sn., M.fil.H, seminar menghadirkan narasumber Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda dari sisi tatwa atau filsafat, Dr. IGST. Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (Psikiatri) dan  I Gede Wayan Supanca Ariyasa, SSI, MM, CRBD, Cht.CI yang membahas dari sisi metafisika hypnotherapy. “Kerauhan adalah berada dalam ruang sakral. Kerauhan berasal dari kata “rauh” yang artinya “datang”. Sehingga kerauhan dalam praktiknya ada unsur kesengajaan menghadirkan kekuatan-kekuatan gaib yang merupakan
“div” dari Dewata.

Sedangkan kesurupan dan kerangsukan adalah berada dalam ruang provan.

Kerauhan ada 2 jenis, yakni kerauhan dewa dan kerauhan bhuta. Kalau ingin tahu bahwa itu kerauhan dewa, maka ada etika yang dilaksanakan. Kalau jero mangku semua upakara yang dilaksanakan, dihaturkan nginutin sejeroning sesana. Yen kerauhan nike, yen sampun kerauhan dewa  pasti ketel wecanane halus,” tambahnya.

Dia juga menyebutkan, ada kerauhan prasanak, atau kerauhan prarencang Ida Bhatara pada pepatih Ida Bhatara, biasanya kerauhannya agak sedikit ekstrim.

Ekstremnya seperti dengan mengambil keris metebekan, atau mengambil api dan sebagainya. “Itu yang dimaksud kerauhan dewa melalui sosok pepatih atau prarencang Ida Bhatara. Itu bisa dibuktikan. Karena apa ? Ada dasar upakara yadnya, bebantenan yang dipakai sebagai dasar landasan untuk Nedunan Ida Bhatara.

Makanya ada tradisi “Nyanjan” atau “Daksina Penedunan”, nedunan Ida Bhatara nunas bawos,” kata laki-laki yang sudah membuat buku tentang Barong dan Rangda juga buku Sesananing Pregina ini.

“Sedangkan kalau kita berbicara tentang masalah kerangsukan adalah yang kesengajaan. Dalam artian memasukkan energi negatif. Baik berupa roh, desti dan sebagainya oleh orang yang ahli dibidangnya. Misalnya kita tidak senang kepada seseorang, maka kita belajar ongkara ngadeg menjadi ongkara sungsang, dasa bayu dasa guna balik menjadi ongkara sungsang. Itu sifat negatif yang lebih banyak bermain, karena ingin memasukkan sesuatu hal kepada seseorang misalnya. Setelah itu diurip, dimasukkan maka terjadilah kerangsukkan. Oleh karena itu, ini kebanyakan sifatnya negatif. Menyakiti, terangjana, bebainan dan sebagainya,” paparnya.

Kemudian dia juga menyebutkan, bahwa kesurupan merupakan ranah emosi. Didominasi oleh luapan emosi maupun akibat setres. Emosi yang mengalami ledakan dan “hysteria” yang melampui kekuatan kntrol dari pikiran sehingga meletup menjadi luapan emosi yang tinggi.

Otak kanan otak kiri tidak dalam kesadaran penuh. Psikologisnya sedang terganggu.

Lalu apa yang menyebabkan terjadinya kesurupan ini ? Serta bagaimana mengatasinya ?  Tentang hal ini, narasumber lain saat seminar itu juga memberi penjelasan dengan panjang lebar. (SB-Rk, Bersambung)

Comments

comments