Angkat Tema Peduli Sampah, “Bali Reggae Star Festival 2016” Siap Digelar

253
Foto bersama penyelenggara dan beberapa artis pengisi acara. |foto-arx|

SULUH BALI, Denpasar – Musik reggae adalah salah satu dari beberapa musik asli yang bertahan hingga saat ini. Kepopulerannya tetap bertahan dan secara spontan dihidupkan oleh pengalaman hidup, emosi dan tradisi. Diawali kelahiran musik reggae menjadi jendela untuk mengapresiasikan emosi “Jamaika” yaitu untuk mengungkapkan pikiran dan rasa tentang kehidupan, cinta dan keTuhanan.

Saat ini musik reggae adalah musik yang penuh perasaan yang mewakili kekuatan sosial untuk mengapresiasikan tekanan kehidupan sehari-hari dengan cara memberikan gambaran, ungkapan dan membujuk orang-orang melalui lirik-lirik yang kuat. Musik yang berasal dari konfrontasi dan perjuangan yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan kebebasan.

Reggae bukan sekedar musik, tapi Raggae adalah cara hidup yang bagi banyak orang diseluruh belahan dunia.

Mengulang kesuksesan “Bali Raggae Star Festival” ditahun 2015 ANTIDA MUSIC & PREGINA OMS tahun ini kembali menggelar festival yang sama pada tanggal 27 Februari 2016 di pantai padanggalak, Denpasar, Bali. Tahun lalu Bali Raggae Star Festival dihadiri 7.000 pengunjung, dan tahun ini pihak penyelenggara optimis akan menyedot 10.000 pengunjung.

Pada tahun 90’an di Bali musik reggae bisa dibilang memasuki masa keemasan dan semenjak itu reggae menjadi kultur masyarakat pesisir.

Sekitar tahun 90’an di Bali musik reggae bisa dikatakan sudah menjadi culture yang selalu ada menjadi bagian keseharian masyarakat pesisir.

Tidak heran daerah pesisir seperti lombok juga mendapat pengaruh kuat dari genre ini. Sebelumnya berturut-turut pada tanggal 6 – 7 Februari 2016, pihak penyelenggara juga sukses menggelar pre-event “Road To Bali Reggae Star Festival” di Sanur dan Lombok yang berhasil menyedot total sekitar 1.500 pengunjung.

Tahun ini event yang sama akan menampilkan total 17 group musik berasal dari lokal dan nasional serta internasional. Mulai dari Malibu Stone, Slow Project, De’roots, The Guntur, Vermilion, Revelation, D’Sunshine, Andreggae, Djembe Island, The Small Axe, Nath The Lions, Mongkey Boots, Jeck Pilpil, Marapu ft Conkarah, band reggae lokal yang disegani di Bali yakni Joni Agung & Double T serta Tony Q Rastafara.

Conkarah, penyanyi yang asli kelahiran Kingston, Jamaica sengaja didatangkan oleh penyelenggara untuk menjadi salah satu icon Festival ini.

Sepak terjang conkarah yang cukup mengambil perhatian Netizen ketika video reggae “Hello – Adele”nya di youtube menjadi viral dan terlihat hampir 15 juta pengguna internet.

“Bali Reggae Star Festival 2016” kali ini sengaja dimulai lebih awal sekitar pukul 14.00 wita – 23.00 wita untuk memberikan kepuasan pengunjung untuk menikmati suasana festival yang khusus di desain oleh team Archimetrix Architect.

Masih sama seperti tahun lalu, festival ini adalah festival charity yang bekerja sama dengan Yayasan Manik Bumi dimana hasil penjualan tiket nantinya akan dipergunakan untuk membuat tong sampah yang akan disebar di seluruh Bali.

Presale tiket masuk festival dijual dengan harga Rp. 20.000,- sampai tanggal 25 februari 2016 di Antida Music, Jl Waribang 32, Kesiman, denpasar dan bagi pengunjung yang datang langsung saat acara dijual seharga Rp. 30.000,-.

Untuk pengguna Telkomsel akan mendapatkan tiket masuk apabila mendownload 3 atau lebih lagu dari album kompilasi “Bali Reggaeneration” dengan cara mengetik *616*99#. (SB)

Comments

comments