Press Conference bersama para awak media. |foto-arx|

SULUH BALI, Denpasar – Nama Anggis Devaki yang memiliki nama lengkap Pande Putu Damae Anggis Devaki memang belum dikenal dimasyarakat Bali pada khususnya, tetapi kiprahnya didalam industri musik Bali memang perlu diacungi jempol.

Bagaimana tidak, setelah cukup lama menimba ilmu di bidang olah vokal, kemudian beberapa kali uji coba melalui sejumlah lomba, penyanyi belia ini akhirnya rekaman solo album.

Album yang diberi judul namanya sendiri (self titled), yakni “Anggis Devaki” akan mulai diperkenalkan secara resmi kehadapan publik melalui satu pertunjukan acara peluncuran di Hongkong Garden & Restaurant, Denpasar, Jumat 29 Januari 2016 ini.

Anggis memegang album yang akan diluncurkannya. |foto-arx|
Anggis memegang album yang akan diluncurkannya. |foto-arx|

Yang menarik, meskipun Anggis terbilang penyanyi yang baru beranjak remaja, namun rekaman pertamanya justru sudah sarat dengan tema sosial budaya atau lebih tepatnya banyak mengangkat tema adat dan istiadat Bali.

Sebut misalnya lagu bertemakan Purnaming kedasa yang menceritakan tentang piodalan di Pura Besakih. Selain itu juga terdapat lagu yang terinspirasi dari Shanghyang Saraswati, cerita rakyat seperti I Durma lan Rajapala.

Pesan moral juga muncul di lagu tentang sesana, perilaku baik yang berpengharapan agar semeton Bali bersatu, saling mendukung, saling asah, saling asih, saling asuh.

Meskipun demikian, untuk memberi warna sesuai karakter Anggis yang beranjak remaja, ada pula satu lagu tentang kisah cinta remaja, Ngugul Rindu.

“Ide untuk membuatkan album ini awalnya semata karena Anggis suka menyanyi, lalu saya ikutkan les, berlanjut ke lomba-lomba lagu pop bali. Karena dia berprestasi, saya pikir sangat perlu dibuatkan album sebagai dukungan untuk semua yang sudah diusahakan dan dicapai sesuai hobinya,” jelas I Wayan Gede Utama Manik Meranggi, ayah Anggis yang juga bertindak sebagai produser.

Dari itulah kemudian muncul ide untuk membuatkan Anggis rekaman lagu-lagu pop Bali yang isinya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari, adat budaya, filosofi, dan cerita remaja yang disesuaikan dengan realita saat ini.

Menyimak materi album Anggis yang terbilang sarat pesan, bukan sekedar punya album rekaman, kiranya tak lepas dari peran orang-orang dibalik proses pemunculan album ini.

Sebut misalnya sentuhan tangan Komang Darmayuda, dosen ISI Denpasar juga seniman musik yang menjadi pembina Sanggar Cressendo, tempat Anggis bergabung.

Komang Darmayuda pula turut membuatkan lagu di album ini, bersama pencipta lagu pop kenamaan, Komang Raka.

“Saya sangat merasa bangga bisa ikut andil dalam pembuatan album ini, dimana dalam album ini dikemas begitu apik dan diaransemen begitu beda dengan melibatkan orkestra didalamnya. Sehingga album ini membuat suatu variasi baru di dunia musik di Bali,” tegas Darmayuda.

Manik Meranggi berharap, album “{Anggis Devaki” yang dikemas dalam format CD audio dan DVD dapat diterima di masyarakat sebagai karya seni pop Bali.

Selain itu, album yang dilepas berdekatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan ini dapat dijadikan kebanggan masyarakat karena lagu-lagu di dalamnya mengangkat adat istiadat serta budaya Bali. (SB-arx/mrggi)

 

Comments

comments