Aliansi Masyarakat Papua Gelar Aksi Demo Di Konjen As

51
Aliansi Mahasiswa Papua saat berdemo menuju kantor Konjen AS. (foto-rio)

SULUH BALI, Denpasar – Aliansi Mahasiswa Papua Bali menggelar aksi demo di depan kantor Konsulat Jendral Amerika Serikat (Konjen AS) di Jalan Hayam Wuruk sebelah utara bundaran renon pada, Senin (20/3). Dalam orasinya mereka meneriaki subaya stop operasi PT. Freepors di
Papua karena tida memihak kepada masyarakat Papua. “Stop freeport di papua. Bubarkan Freeport dari papua biarkan masyarakat papua menentukan nasib sendiri sesuai dengan cara masyarakat Papua,” ujar kordinator aksi, Gideon yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Papua Bali.

Saat menyampaikan orasinya, mereka berjalan kaki dari Lapangan Niti Mandala Renon menuju kantor Konjen As di Jalan Hayam wuruk. Mereka dikawal dengan ketat oleh aparat kepolisian dan tentara. Sementara di kantor Konjen AS dikawal dengan ketat oelh aparat Kepolisian dengan persenjataan lengkap. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi hal hal yang tida diinginkan. Namun hingga selesainya aksi, tidak ada
kericuhan yang terjadi karena memeang aksi ini adalah aksi damai.

Dalam aksinya, mereka menuntut supaya aktivitas PT. Freeport di Papuan segerah dihentikan. Menurut mereka, kehadiran PT. Freeport di Papua sesungguhnya sangat mencederai dan memiskinkan masyarakat Papua.

Hadirnya PT. Freeport sudah merusak alam Papua dan memusnahkan budaya Papua.
Dalam orasinya di depan kantor Konjen AS, mereka mendesak supaya PT. Freeport segera dihentikan karena selama ini tidak memperdulikan nasib masyarakat Papua. Selain itu, penandatangan perpanjangan kontrak tidak

pernah melibatan masyarakat papua sendiri. Justru yang dilibatkan hanyalah elit elit politik papua. Pelibatan elit elit politik Papuadalam penandatanganan perpanjangan kontrak PT. Freeport di Papua tidak mewakili suara rakyat namun hanya mewakili kepentingan pribadi kaum elit. Pasalnya, selama ini. Masyarakat Papua selalu hidup dibawa tekanan dan intimidasi oleh para militer sebagai seccurity PT.
Freeport.

Sementara itu, Humas Aliansi Masyarakat Papua Bali Natalis Gaekug menjelaskan aksi dami di depan kantor Konjen AS sesungguhnya sebagai bentuk kecintaan kepada masyarakat dan alam Papua yang selama ini telah dirusaki oleh PT. Freeport. ” ini karena ada perasaan sayang kepada masyarakat papua. Alam papua yang dulu hijau sekarang sudah rusak. Kebijakan freepor tidak pernah memikirkan nasib rakayat papua. Freeport harus ditutup. Orang papua tidak dilibatkan dalam perpanjangan kontrak freeport,” ujarnya.

Natalis menjelaskan banyak perusahan asing yang beroperasi di papua sejak PT. Freeport masuk. Hal itu karena Freeport sebagai corong masuknya perusahan perusahan asing lainnya. Sesungguhnya bumi Indonesia sedang digadaikan oleh pemerintah indonesia.

“Selama 51tahun PT. Freeport beroperasi di Papua tapi tidak pernah memperhatikan nasib masyarakat papua. Sementara alam kami terus dirusak. Mau ke mana masyarakat papua nanti juka papua sudah rusak semuanya. Kami minum apa, air air kami sudah diracuni oleh limbah tailing PT. Freeport. Karena itu kami masyakat Papua siap melawan Freeport,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Menurut mereka bahwa pembukaan UUD 45 sudah jelas bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa. “Apakah itu hanya tulis belaka kawan kawan! Kami dibunuh oleh Freeport. Imperialisme hancurkan. Kolonialisme bubarkan. Kami mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Kami tidak membutuhkan Amerika untuk memperjuangkan nasib kami. Kami tidak membutuhkan Indonesia. Kami bisa menentukan nasib kami dengan cara kami sendri,” ujarnya. (SB-Rio)

Comments

comments