Press Conference The 2nd Plenary Meeting ISO /TC 292 Security and Resilience

SULUH BALI, Mangupura ─ Indonesia kini boleh berbangga pasalnya alat Sistem Peringatan Dini Gerakan Tanah karya Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta telah diajukan untuk memperoleh standar ISO pada pertemuan dunia bertajuk “The 2 nd Plenary Meeting ISO /TC 292 Security and Resilience” yang digelar di Kuta, Bali, 30 November-4 Desember 2015.

Alat yang diberi nama Gajah Mada Early Wearning System (GAMA-EWS)diajukan untuk mendapat standar Internasionalmerupakan bagian dari penyelamatan kebencanaan nasional sehingga dapat menekan korban bencana di Indonesia.

“Alat Sistem Peringatan Dini Gerakan Tanah ini kita pilih untuk diajukan sebagai kontribusi Indonesia kekancah tingkat internasional,” ujar Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Lilik Kuriawan, dalam Press Conference di Kuta, Jumat (4/12).

Sistem yang diprakasi oleh Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta telah dipresentasikan dihadapan 20 negara-negara dunia dalam proses mendapat pengakuan standar Internasional kategori penanggulangan bencana.

“Tadi sebelum sholat jumat Prof. Dwikorita Karnawati mewakili Indonesia telah menyampaikan usulan ke ISO terkait Sistem Peringatan Dini Gerakan Tanah,” ungkapnya.

I Nyoman Supriyatna, Kepala Pusat Perumusan Standar BSN Pusat menjelaskan  bahwa dari pemaparan presentasi Rektor UGM, Prof Dwikorita Karnawati terkait alat ini telah disetujui oleh seluruh delegasi yang hadir.

“Dari 20 negara yang hadir dengan jumlah delegasi 140 orang, resolusi yang disampaikan telah disetujui,” terangnya.

Selanjutnya usulan Indonesia ini akan ditindak lanjuti dunia dalam pertemuan-pertemuan berikutnya “tinggal menguatkan prosesnya sampai 2-3 tahun kedepan,” imbuhnya.

Terkait dengan standar internasional penanggulangan bencana sendiri telah dimiliki oleh negara Jerman, namun Prof. Dwikorita Karnawati mengatakan alat miliki Indonesia berbeda, dan secara spesifik cocok untuk digunakan di Negara berkembang seperti Indonesia.

“Meskipun Jerman sudah mengeluarkan standar namun tidak menyentuh masyarakat lokal,” ungkapnya. (SB-Skb)

Comments

comments