Aksi dan (Re ) Aksi Nyoman Erawan

114

Nyoman Erawan dalam sebuah aksi seninya (foto iwan darmawan).

 

SULUHBALI.CO, Gianyar — Seniman Nyoman Erawan menggelar pameran tunggal dengan menampilkan 114 karya kanvas, karya instalasi, dan performa di Museum Arma, Ubud, Bali, selama sebulan penuh mulai Kamis (17/10).

“Pameran tersebut sebagai apresiasi atas pelaksanaan ‘Bali Art in Culture & Tradition’ (Bali Act) yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” kata Nyoman Erawan didampingi Panitia Daerah Bali Act Wayan Sriyoga Parta di Ubud, Kabupaten Gianyar, Minggu (13/10).

Pihaknya mendapat kepercayaan dari Menparekraf Marie Elka Pangestu untuk menyuguhkan karya-karya spesial bersamaan dengan kegiatan yang digelar pada 101 tempat lainnya di Pulau Dewata.

Masing-masing seniman akan apresiasi terhadap pelaksanaan Bali Act 2013 yang dilaksanakan pada belasan museum, galeri dan studio seni di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, Klungkung, Tabanan, Badung, Karangasem dan Tabanan.

erawan
Nyoman Erawan dengan instalasi karya yang akan dipamerkan 17 Oktober 2013. (foto iwan darmawan)

Nyoman Erawan yang selama ini sukses menggelar pameran di tingkat lokal, nasional dan internasional dalam pameran kali menyuguhkan karya yang khas sebagai pernyataan warna, dinamika gerak, tubuh, raut ekspresi nirbentuk, penumpukan simbol dan tanda.

Upaya itu disertai pula penalaran tentang keadaan waktu dan ruang, sehingga penafsiran tentang seni rupa dalam ekspresi budaya dan tradisi (ACT) ditunjukkan sebagai suatu manifes serial aksi dan (re) aksi. Alumnus ISI Yogyakarta itu menambahkan, kerangka kerja artistik adalah salah satu contoh terbaik dari kemungkinan proses yang banyak dilakukan para seniman Indonesia, khususnya di Bali.

Ekspresi seni rupa tak pernah berhasil dijauhkan dari kebiasaan adat dan tradisi hidup. Kemajuan dunia modern yang telah banyak mengubah, bahkan membentuk menjadi model keadaan yang baru.

“Segi-segi pengalaman hidup manusia di kota-kota besar ditanggapi dengan khas lewat adat dan tradisi hidup di Bali. Keadaan hidup dan masyarakat Bali kini berbeda dengan masa-masa sebelumnya, sebagaimana wajah lingkungan dan ruang kehidupannya yang berubah dan berkembang,” tutur pria enerjik asal Sukawati, Gianyar itu.

Ia menjelaskan, ekspresi seni selalu bermaksud untuk mengingatkan ihwal pentingnya penambahan tingkat kesadaran akan nilai-nilai luhur pengalaman hidup. Seni hendaknya menjadikan manusia tetap mawas diri.

“Apa yang menarik dari cara ‘aksi dan (re)aksi’ yang dicontohkan bukanlah sejenis model penafsiran ala logika dialektika atau cara berfikir perlawanan (anti-tesis), namun sebuah model oposisional yang dimaksudkan untuk meraih makna-makna terdalam dari seri keadaan yang berbeda-beda,” tutur Erawan.

Karya-karya Nyoman Erawan dalam ritus seni rupa, karya seni instalasi, seni video, maupun lukisan bisa dipahami sebagai manifestasi ekspresi emosi dan pernyataan intuisi jiwa yang didasari keterlibatan tubuh-diri.

Terutama pada karya-karya ritus seni rupa, ekspresi dan performance tubuh adalah manifes keterlibatan diri sekaligus berlaku sebagai tanda-tanda yang merepresentasikan sikap pemuliaan nilai-nilai kebahagian hidup melalui prinsip-prinsip keseimbangan.

Oleh sebab itu lukisan abstrak yang dihasilkan bisa dinilai sebagai pilihan ekspresi demi menyampaikan sikap, penilaian, atau renungan yang personal atas berbagai peristiwa hidup dan kejadian alam pada bingkai perspektif keadaan manusia. (SB-ant)

Comments

comments