Akibat Kemarau atau Salah Urus?

0
131

ARTIKEL

SULUH BALI

Belum lagi masalah air ledeng untuk kebutuhan sehari-hari tertangani, harga-harga kebutuhan pokok (sembako) sudah bikin deg-degan. Karena harga sembako sudah nyalip duluan daripada naiknya harga BBM, yang baru dikabarkan akan segera naik.

Para ibu-ibu mesti dengan cepat menyesuaikan anggaran rumah tangga. Karena mesti menghadapi langgam pedagang, harga barang-barang naik ya jualnya juga naik. Tidak mau tahu urusan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah, pokoknya beli mahal, jual juga mesti lebih mahal. Yang sering baca koran atau nonton TV, paling akan bilang, karena harga BBM akan segera naik.

Begitupun dengan urusan air ledeng, yang kian hari kian banyak warga yang teriak, karena pipa ledengnya hanya keluar angin, hanya jam-jam tertentu saja keluar air. Kenapa bisa begini? Mungkin begitu pertanyaan warga itu. Sebagian warga memaklumi, mungkin karena sekarang lagi musim kemarau. Jadi sumber-sumber air yang disalurkan ke rumah-rumah itu sedang menurun debit airnya.

Tapi bagi warga yang lain, yang lebih kritis dan doyan minjem dan baca-baca koran di warung kopi, sedikit tahu kalau sebenarnya sumber air masih bisa mencukupi kebutuhan air bagi warga. “Hmm katanya sumber-sumber air masih besar, yang baru dimanfaatkan dan disalurkan ke warga baru sedikit. Kalau begitu air yang terbuang lumayan besar dong,” celetuk salah seorang warga di warung kopi, usai baca koran. “Jadi bukan cuma karena kemarau yang berkepanjangan ini penyebabnya. Salah urus, salah kelola juga,” bapak dagang kopi reflek menimpali.

Mendengar obrolan pembeli kopi dan penjual kopi di warung kopi tadi, ingatan saya pun jadi muncul. Suatu ketika, beberapa tahun yang lampau, saat datang bertamu ke rumah seorang sahabat melihat ada buku tebal yang tergelatak diatas meja ruang tamu rumah sahabat itu Sambil menunggu sahabat saya tengah membuatkan kopi, saya iseng buka-buka buku tersebut. Saya terkesan akan sebuah kalimat : “Tidak ada negara yang miskin. Yang ada hanya salah urus.” Karena sahabat saya sudah datang dengan kopi panasnya, sayapun lupa memperhatikan judul dan penulis buku tersebut.

Namun kalimat tersebut tidak pernah terlupakan, kalimat sarat makna, kalimat pendek tapi seperti menyindir apa yang terjadi dengan bumi yang saya pijak. Alam di bumi yang konon sangat subur, kaya sumber daya alam, termasuk airnya. Tapi kenapa, dan semoga saja tidak sampai terjadi, ada warga yang jatuh sekarat karena kekurangan air minum. Begitu pula dengan minyak.

Kembali merenung kalimat yang ternyata ditulis oleh begawan manajemen, Peter F.Drukker itu.  Tidak ada negara miskin, yang ada adalah karena salah urus atau salah mengelola. Jadi sebenarnya tidak mesti jatuh dalam kelaparan, kekurangan air, asalkan pengelolaannya benar. Jadi tidak terburu-buru menyiimpulkan dan menduga kalau air ledeng kering, akibat langit pelit menjatuhkan air hujan. Ternyata juga akibat lalai mengurus dan mengelola sumber-sumber air yang tersedia. (SB-raka)

Comments

comments