Agung Rai | Backpacker Berjasa Promosikan Bali

116

Agung Rai “Pemilik museum ARMA”. |foto-raka|

 

SULUHBALI.CO, Denpasar – Pada masa lalu, ketika geliat pariwisata Bali belum seramai dan dikenal seperti sekarang, Bali dikunjungi oleh beberapa wisata backpacker.” Mereka inilah para backpacker yang rata-rata berusia muda, biasanya kalangan mahasiswa yang banyak menulis tentang Bali. Selain membuat tulisan atau buku-buku tentang Bali, juga mengabadikan keeksotisan alam dan budaya Bali,” Agung Rai menceritakan.

Backpacker adalah para traveler dengan budget minim menjelajah tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, sambil berjalan kaki. Kadang juga dengan sepeda,  mencari yang serba murah dan sangat menikmati detail perjalanan. Untuk mengenalinya cukup mudah biasanya mereka memakai ransel punggung (backpack) dan berpakaian seadanya. Tas punggung atau yang dikenal sebagai backpack inilah yang menjadi ciri khas mereka

Kemudian pemilik Museum ARMA ini menceritakan, dulu di usianya yang masih muda sudah merantau menjadi pedagang asongan  menjual barang-barang seni di Denpsar, Kuta dan Sanur. “Saya masih ingat, dulu saya yang mengadu  nasib sebagai  ‘dagang acung’ di Kuta, Sanur dan Denpasar, melihat dan kenal dengan beberapa orang asing yang datang kesana, beberapa diantaranya adalah para backpacker,” paparnya ketika menjadi pembicara dalam diskusi di Museum Topeng, di Mas, Ubud tempo hari. Ia pun bercerita dan masih ingat penginapan-penginapan kecil yang dulu menjadi langganan para backpacker tinggal ketika datang ke Bali, terutama di kota Denpasar.

Jadi menurutnya, jangan disepelekan atau dipandang sebelah mata para wisatawan backpacker yang datang ke Bali. “Justru jasa meraka sangat besar mempromosikan Bali. Baik dengan tulisan, foto maupun cerita mereka kepada teman-temannya. Saya punya pengalaman, ada seorang backpacker asal Jerman. Dulu ketika pertama datang ke Bali masih berstatus mahasiswa. Kini ia sudah menjadi professor di negaranya, hingga sekarang ia masih sering komunikasi dengan saya,” kata Agung Rai, yang punya nama lengkap Anak Agung Gde Rai,  kelahiran Peliatan, Ubud 14 Juli 1955 ini  menceritakan pengalamannya dengan backpacker. (SB-Raka).

Comments

comments