Adakah Pemimpin Ideal Sekala Niskala Itu ?

151

Suasana diskusi “Kriteria Pemimpin Harapan Rakyat” di Kampus Warmadewa. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar – Mencari pemimpin yang ideal dan sesuai dengan harapan rakyat memang sangat sulit. Namun paling tidak seorang pemimpin meski tidak ideal, bisa realistis dan mampu memetakan masalah di wilayah yang dipimpinnya.  “Si calon pemimpin harus tahu permasalahan, tantangan wilayah dan masyarakat yang akan dipimpinnya. Dengan itu nantinya akan bisa mencarikan solusinya,” papar tokoh sekaligus pelaku pariwisata Bagus Sudibya. “Tidak perlu yang ideal, yang penting bisa realistis,” tambahnya.

Hal itu ia sampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kriteria Pemimpin Harapan Rakyat” yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa, Jumat (22/5/2015). Lebih jauh ditambahkan calon pemimpin yang akan dipilih untuk memimpin haruslah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan mampu juga mencarikan solusinya.

Diskusi yang dihadiri oleh kalangan kampus, KPU Bali, PHDI, BEM, Parpol, LSM, mahasiswa dan pemerhati sosial dan politik di Bali itu diharapkan nantinya memberikan kontribusi pada tiap ada perhelatan politik atau pemilihan pemimpin di Bali. Termasuk pada pilkada serentak yang akan diadakan tanggal 9 Desember nanti.

Sedangkan sebagaian kalangan kampus yang hadir juga menyampaikan kekhawatiran akan makin tajamnya sikap pragmatis pada masyarakat pemilih. Sudah bukan rahasia lagi pada sebagian masyarakat pemilih akan dengan sukarela memilih bila si calon pemimpin memberinya sejumalah nilai berupa uang. Tidak melihat apa yang menjadi program serta apa yang akan dilakukan setelah si calon terpilih.

Diharapkan seorang calon pemimpin hendaknya sudah selesai dengan urusan dirinya. Kemudian mau memposisikan diri dan merasakan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Kalau urusan dirinya sudah selesai, diharapkan nantinya setelah menjabat tidak lagi sibuk oleh urusan kepentingan pribadi yang mnyeret si pemimpin ke dalam jeratan hukum seperti melakukan tindakan korupsi.

Bahkan terlontar juga pemikiran untuk mengikuti budaya dan tradisi yang ada di Bali untuk diadopsi dalam memilih pemimpin Bali ke depan. Yakni bagaimana seorang pemimpin agar bertanggung jawab baik secara sekala dan niskala. Dilihat kemauan dan kemampuan si calon pemimpin itu tanggung jawabnya menyangkut kecakapan memimpin maupun tanggung jawabnya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Karena mengucap sumpah jabatan selama ini tidak cukup membuat jera. Apalagi sudah banyak disuratkan pedoman dan etika kepemimpinan dalam tradisi Hindu, yang sepatutnya dijadikan pegangan. (SB-Raka)

Comments

comments