Ada Rasa Cemas Petani, Dibalik Hamparan Sawah yang Indah

0
303
Hamparan Sawah di Desa

SULUH BALI – Sawah-sawah dengan bentuk terassering menampilkan pesona yang indah begitu banyak kita jumpai, terutama di alam pedesaan Bali. Turis-turis begitu kagum, dan mengabadikannya dengan kamera saat mereka memandanginya. Sudah tidak terhitung lagi, karya foto maupun video dibuat yang menampilkan keindahan dan keunikan sawah yang diatur dengan sistem subak itu.

Namun dibalik keindahan, keunikan dan daya tarik persawahan tersebut, susungguhnya ada kecemasan dari benak petani kita. Terutama keberlangsungannya. Mungkin dalam jangka waktu yang masih lama, sawah-sawah tersebut masih ada. Tetapi sumber daya manusia, yang menggarap, yang mengerjakan sawah-sawah itu yang dikhawatirkan akan semakin berkurang.

“Sekarang saya sudah lelah karena faktor usia. Kalau dulu saya sangat senang dan semangat menggarap sawah, yang merupakan warisan dari orang tua. Saya menyekolahkan anak-anak juga dari hasil sawah itu. Tetapi sekarang, anak-anak pada merantau karena kerja di kantoran. Mereka sering pulang pas kalau ada kegiatan suka-duka di adat maupun saat hari raya. Ya itu tadi, sawah-sawah ada itu, meski tidak luas, akhirnya neng (tidak tergarap),” cerita seorang petani ketika diajak ngobrol di pundukan (pematang sawah) sore itu.

Sambil memandang hamparan sawah miliknya, bapak ini kemudian terdiam. Terdengar helaan nafas, kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Saya sudah komunikasikan ke keponakan, keluarga dan tetangga, menawarkan agar mau menggarap sawah ini. Ya terserah mau sistem nandu (bagi hasil) atau sewa. Saya berikan kebebasan. Agar jangan sampai kosong dan tak tergarap saja sawah ini. Namun semua yang saya tawari menyatakan tidak sanggup. Bukannya tidak mau. Ya karena mereka sekarang sudah punya kesibukan, pekerjaan masing-masing. Tetapi bukan sebagai petani,” bapak ini menjelaskan kendala yang ia hadapi.

Bapak ini pun menceritakan, dirinya masih ingat dengan apa yang pernah dinasihatkan almarhum orang tuanya dulu. “De nyen mekelo carik nengine. Keto mase yen dadi ben, de pesan anggona mepula-pulaan care di tegalan. Nak sukeh di carike. Pelih ben ngeranaang sakit, pesu keweh,” begitu pesan yang dulu pernah diberikan almarhum orang tuanya tentang sawah miliknya itu.

“Benar juga. Saya bisa menghidupi keluarga, menyekolahkana anak-anak karena hasil dari sawah ini. Itu saya sangat bersyukur sekali. Sekarang menghadapi situasi seperti ini, saya selalu ingat dengan pesan pengelingsir dulu itu. Makanya saya berusaha bagaimana caranya agar sawah ini tidak sampai kosong, kering tidak berisi padi. Tetapi itulah kendalanya sekarang, sulit anak-anak muda yang tertarik bekerja sebagai petani. Apalagi nanti, bagaimana ke depannya ?” ungkapnya bertanya dengan nada yang berat sambil menatap ke arah saya.

Kembali terdengar helaan nafas panjang, disusul ajakan untuk pulang ke rumah karena hari sudah menjelang sore. Terasa hembusan angin sejuk menyapu badan saya, sambil terus mengikuti langkah bapak ini di pematang sawah. (SB-Rk)

Comments

comments