Ada 60 Titik Kesucian Kawasan Teluk Benoa, Sikap PHDI Belum Jelas

1091
Nara sumber diskusi dan panitia (foto su)

1. Perjalanan Terakhir Dang Hyang Nirarta

SULUH BALI, Denpasar ̶ Kawasan Teluk Benoa yang rencananya akan direklamasi dinyatakan memiliki sejumlah 6o titik kesucian. Adapun titik suci yang ada di kawasan Teluk Benoa diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 saat Dang Hyang Nirarta menjadi penasehat raja di Bali.

“Di kawasan Teluk Benoa merupakan perjalanan terahir Beliau (Dang Hyang Nirarta) setelah meletakkan pondasi Bali dalam konteks sebagai Purohito (penasehat kerajaan),” ungkap Dr. Sugi Lanus, Peneliti Budaya pada Diskusi Publik bertajuk “Telaah Sosial Budaya Kawasan Suci Teluk Benoa” yang digelar ForBALI di Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar, Jumat (6/11/2015).

Dalam konteks modern, sesuai dengan hasil penelitiannya di kawasan Teluk Benoa, 60 titik kesucian merupakan tempat yang disakralkan masyarakat di kawasan Teluk Benoa. “Dalam konteks modern kekinian ada 60 titik kesucian yang disakralkan di kawasan Teluk Benoa,” bebernya.

Dasar penentuan kawasan suci sesuai dengan hasil penelitiannya yakni bisama yang mengatur kawasan suci di Bali yakni gunung, danau, campuan, pantai, laut, loloan. Begitu pula Perda Bali telah mengatur tentang kawasan suci berupa gunung, perbukitan, danau, mata air, campuhan dan pantai. “Laut, pantai, campuhan dan pantai numplek disitu, tidak ada yang tidak suci disitu,” beber Sugi.

2. PHDI Belum Bersikap

Sementara Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat belum berani menyatakan sikap terkait dengan sikap pro kontra reklamasi Teluk Benoa maupun penentuan kawasan suci Teluk Benoa. Putu Wirata Dwikora, Ketua Sabha Welaka PHDI Pusat menyatakan diluar konteks agama bukan merupakan persoalan Parisada.

“Kajian Parisada menyatakan kalau masalahnya menyangkut ekonomi, demografi, lingkungan hidup, maupun persoalan-persoalan lain kebijakan hukum tentu menjadi perhatian, namun bukan kompetensi Parisada,” ungkapnya.

Badan pengayom umat Hindu ini akan melihat persoalan Teluk Benoa hanya dari segi agama dan budaya sehingga menurutnya masih menunggu kajian-kajian dari ahli untuk menentukan keputusan tepat terkait dengan kawasan suci Teluk Benoa.

“Kompetensi parisada adalah masalah agama, budaya , kami menunggu kalau ada kajian terkait itu mari kita sama-sama gunakan untuk menentukan keputusan parisada,” harapnya.

Hingga saat ini PHDI belum jelas menentukan sikap maupun posisi pro ataupun kotra. Dalam menentukan keputusan, PHDI telah membentuk Tim 9 yang terdiri dari 33 orang Sulinggih se-Indonesia yang tergabung dalam organisasi tertinggi PHDI yakni Sabha Pandita PHDI Pusat. “Parisada masih membentuk tim 9 untuk melakukan kajian,” terang Dwikora. (SB-Su)

3. Comments

comments