“Abstrak” Menurut Tujuh Perupa Muda Bali

24
Karya Abstrak pelukis (foto cas).

SULUH BALI, Gianyar – Pameran Tujuh Perupa Muda dengan Tema “Abstract Is” merupakan salah satu acara yang digelar oleh Bentara Budaya Bali di bulan Oktober ini. Acara ini dibuka pada tanggal 12 – 22 Oktober 2017, tepatnya di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra No. 88A, Gianyar.

Pameran ini diikuti oleh ketujuh seniman muda yang semuanya berasal dari Bali. Menurut Made Susanta Dwipayana sebagai kurator pameran ini mengatakan, dipilihnya ketujuh anak muda ini dilandaskan dari sekian banyak perupa muda di Bali, namun hanya ketujuh orang ini yang memilih Abstrak.

“Saya berfikir bagaimana kita menghadirkan seniman muda yang mengambil aliran abstrak ini bersama-sama di ruang pameran. Bagaimana konseptualnya, gagagsannya apa dan kenapa mereka harus ada, akhirnya saya terbesit untuk melontarkan pertanyaan, mengapa mereka memilih abtrak. Hingga muncullah tema Abstract Is ini,” jelasnya.

Sebelumnya pameran serupa juga telah digelar di Bentara Budaya Yogyakarta, namun saat itu hanya ada enam seniman muda yang bergabung. Karya-karya yang dipamerkan juga berbeda dengan pameran sebelumnya.

Para perupa Abstrak.

Cukup menarik, ditengah zaman yang kian berkembang para perupa muda ini lebih memilih berkarya dengan aliran abstrak. Rata-rata para seniman muda ini mengakui dengan memilih abtrak mereka lebih merasa bebas dalam berkarya, tidak ada batasan yang mengekang mereka.

Menurut salah seorang seniman mengartikan abtrak adalah sebuah bayangan hitam, tapi kalau kita mengingat-ingatnya akan menjadi realita. Dimana diandaikan seperti bayangan pohon, dengan melihanya bayangannya saja kita bisa langsung tahu bahwa itu memang pohon. Berbeda dari seniman yang lain yang memamerkan lukisan, I Kadek Darmanegara memamerkan objek temuannya yang berupa batu lahar.

“Judulnya Layers of Falsehood, dimana konsep ini tentang bumi. Titik fokus yang di dalam lingkaran ini adalah bumi yang sesungguhnya. Pasir, batu dan tanah itu kan lapisan bumi, jadi saya masukan juga di karya saya ini. Karena sekarang banyaknya sampah-sampah pelastik, mengakibatkan lapisan ini sudah bergeser dan menajadi palsu,” tutur Darma.

Pengerjaan objek temuan ini terbilang lama, mengambil waktu kurang lebih satu bulan Darma baru bisa menyelesaikannya.

Lain halnya dengan I Putu Sastra Wibawa, dirinya mengartikan abstrak lewat coretan di kanvas. Walaupun dia memilih aliran abstrak, namun dia mengakui dalam setiap gambar-gambarnya dia memiliki objek untuk dilukis.

“Abtrak menurut saya adalah sebuah proses, dari awal berkarya saya selalu bereksperimen dengan banyak bahan. Saya melukis abstrak itu seperti seorang realis, mempunyai objek yag akan saya tampilkan,” jelas Wibawa.

Masih ada kesempatan untuk berkunjung dan menyaksikan karya-karya dari tujuh peruma muda ini. (SB-cas)

Suasana pameran “Abstrak”.

Comments

comments