Kemampuan dan keahlian pria berpenampilan sederhana ini tidak diragukan lagi. Sejak mahasiswa telah berhasil menciptakan karya seni tari dan musik ber-basis tradisi budaya Bali maupun kolaborasi dengan budaya modern (barat).

Bahkan beberapa karyanya cukup monumental, di antaranya tari Baris Bandana Manggala Yuda, Kembang Pencak, Jale Mahajaya serta karya kolosal sendratari Semara Wisaya.

Doktor I Nyoman Catra, SST MA (59), pria kelahiran Mengwitani, Kabupaten Badung itu banyak menghasilkan karya seni yang cukup memasyarakat, bahkan beberapa di antaranya masuk ke berbagai festival seni tingkat lokal Bali, nasional maupun internasional.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu juga dikenal sebagai seniman serba bisa, yang dengan senang hati dan iklas “mentransfer” keahliannya kepada generasi penerus, baik di tengah lingkungan masyarakat maupun dalam dunia kampus.

Suami dari Desak Made Suarti Laksmi SSKar MA itu memiliki pengalaman berkesenian di tingkat lokal Bali, nasional dan internasional sehingga mampu menghasilkan karya-karya unik dan menarik yang enak untuk ditonton.

Ayah dari tiga putra dan putri itu pernah menggarap program kolaborasi dengan seniman dari berbagai negara di belahan dunia selama tiga bulan di La Mama Teater New York atas dasar konsep sakral dan profan dalam berkesenian di dunia.

Demikian pula kerja kolaborasi dengan Internasional School Theater Anthropology (ISTA) yang dimotori oleh Eugenio Barba sebagai direkturnya yang menyertakan seniman pilihan dari Bali, India, China, Jepang, Brasil.

Pernah pula bekerja sama dengan Larry Reed, seorang puppet master dari California, Amerika Serikat dengan berbagai karya seni inovatif dalam pewayangan seperti Maya Denawa, Dalem Sidakarya dan Pamuteran Mandara Giri.

Dr Catra yang masih aktif dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan tinggi seni itu juga pernah menggarap karya kolaborasi dengan Prof Ronald S Jenkins dengan karya inovatif seni tradisional Bali dengan teater barat dan tradisi etnik lainnya.

Selain itu menggarap drama musikal bergabung dengan Boston musik viva dengan tema Mimpi Bhisma Swarga dan sejumlah karya seni lainnya bersama mahasiswa Holycross College.

Sosok pria yang sangat merakyat itu juga tercatat sebagai salah seorang pendiri grup gamelan Galaktika Massachusette Institut of Technology (MIT) di Boston Amerika Serikat, sekaligus memberikan pelatihan secara berkelanjutan selama delapan tahun.

Grup gamelan Galaktika hingga sekarang keberadaannya masih eksis dalam memberikan aktivitas kesenian Bali sebagai bagian persembahan semesteran di belahan timur negara Amerika Serikat.

Karya-karya seni kolaborasi itu pernah dipentaskan di berbagai kota besar di belahan dunia, Bali dan kota besar lainnya di Indonesia.

Seni Citta Usadhi Kepala Seksi Perfilman dan Perizinan pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh mengatakan, sosok I Nyoman Catra yang memiliki prestasi cukup menonjol dalam bidang penggalian, pelestarian dan pengembangan seni budaya itu kini masuk nominasi penerima Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemprov Bali.

Untuk itu Pemerintah Provinsi Bali membentuk satu tim untuk menyeleksi seniman yang dinilai berjasa terhadap pengembangan seni budaya Bali untuk memperoleh Dharma Kusuma.

Tim beranggotakan dari instansi terkait untuk menyeleksi kembali usulan yang diajukan Pemerintah Kabupaten/kota di daerah ini sehingga seleksi penerima Dharma Kusuma itu sangat ketat.

Penghargaan tertinggi dalam bidang seni itu akan dianugrahkan oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada puncak perayaan HUT ke-55 Pemprov Bali, 14 Agustus mendatang.

Sosok I Nyoman Catra dilahirkan dalam lingkungan perdesaan yang sepenuhnya mengabdikan jiwa dan raganya untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya itu awalnya mendirikan Sanggar Seni Citta Usadhi di tempat kelahirannya.

Lewat sanggar itu ayah dari Adiyana Paramita, Dwiyana Stirabudi dan Nyoman Triyana Usadhi itu memberikan pelatihan seni tari, tabuh dan dramatari kepada generasi penerus sebagai fondasi dalam melanjutkan tradisi yang luhur.

Tempat pembelajaran di luar pendidikan formal itu dikelola dengan produktivitas berkesenian yang produktif menyangkut berbagai bidang tari, tabuh, jangger dan dramatari arja.

Semua upaya itu menekankan penggalian, pembinaan dan pelestarian seni budaya tradisi, sekaligus mendorong tumbuhnya seni bernuansa kreasi, modern, kontemporer sebagai cermin kreativitas berkesenian.

Nyoman Catra yang juga dipercaya sebagai Ketua Himpunan Seniman Kabupaten Badung itu bertekad untuk menumbuh-kembangkan seni budaya mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mengacu pada penguatan akar dan ciri khas tradisi.

Selain itu juga berperanserta secara aktif dalam merancang kegiatan dan pembinaan teksnis kesenian di masyarakat dalam meningkatkan kualitas tampilan seni yang disuguhkan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata.

Duta seni kabupaten/kota sebelum tampil ke PKB membutuhkan adanya pembinaan, baik secara teknis, sosialisasi tema PKB, kuratorial sampai evaluasi kegiatan aktivitas berkesenian untuk tujuan penggalian, pembinaan, pelestarian dan pengembangan seni tradisi maupun kesenian modern.

Sosok pria yang sangat enerjik dan senang bergaul dengan siapa saja juga telah menerbitkan belasan buku tentang tentang kesenian antara lain berjudul Imba Patopengan Sidakarya, The Invisible Mirror Siwaratrikalpa: Balinesa Literature in Performance.

Selain itu juga menulis buku Sastra Bali dalam seni pertunjukkan dan sejumlah kertas kerja tentang wayang, dramatari tradisi dalam bentuk pakem tuntunan pembelajaran.

Perkembangan seni budaya Bali yang cukup pesat di tengah-tengah kehidupan masyarakat Pulau Dewata, menjadikan sosok I Nyoman Catra semakin sibuk, karena mendapat permintaan dari warga masyarakat untuk melatihnya.

Kepercayaan masyarakat itu tidak disia-siakan, secara maksimal berusaha menenuhi permintaan setiap sekaa kesenian untuk melatihnya. Hingga sekarang peran sebagai pembina itu masih dilakoninya, disamping menciptakan karya-karya baru bidang seni kerawitan, dengan tugas pokoknya sebagai dosen di ISI Denpasar. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.