SULUH BALI, Gianyar – Look Into The Future merupakan salah satu ide yang lahir dari Bali Sustainability Jam 2017. Acara ini berlangsung selama tiga hari, 10-12  November lalu di Kulidan Kitchen and Space. Tak hanya Bali, mereka yang sangat​ ​antusias​ ​dengan​ ​isu-isu​ ​berkelanjutan​ ​ini​ ​datang​ ​dari​ Jakarta​ ​ hingga​ ​Yogyakarta, tidak ketinggalan teman-teman dari Italia, Prancis dan Belanda juga ikut bergabung di Bali.

Look Into The Future merupakan ide dari Hendra, Diana, Marco (Italia) dan Lia, dimana mereka membuat fortofolio tentang wisatawan yang nantinya bisa menjadi bagian dari sustainability di pulau Bali.

“Kami membuat prototype, dimana kami menggunakan sampah sebagai votingnya. Diamana nantinya kami akan berkerja sama dengan STT setempat, mereka bisa menjadi ambassador dan promotornya. Pastinya akan ada bank sampah yang bisa mereka kelola juga,” jelas Hendra.

Hendra dan kawan-kawan membuat dua box, dibagian kiri terdapat box yang bertuliskan sustainable development dan disisi kanan bertuliskan sustainable development. Fungsi kedua box ini nanti akan mejadi wadah voting. Voting yang menggunakan sampah nantinya ketika dimasukan ke box akan langsung terkena sensor. Hasil votingnya nanti akan terlihat  di live monitor yang sangat sederhana, energinya nanti disupport dengan solar panel. Selain itu, akan ada screen dibelakang kedua box tersebut yang menunjukan jika Bali sustainable atau tidak sustainable.

Cinta Azwiendasari, perwakilan dari Catalyze Communications selaku pihak penyelenggara mengungkapkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi Catalyze yang selalu memberi inspirasi dan mempengaruhi orang untuk kebaikan yang lebih berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa dalam melakukan hal ini, kita juga perlu mengubah pola pikir bagaimana orang mendekati masalah keberlanjutan, khususnya di Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa prinsip dasar pendekatan Global Sustainability Jam inilah yang menjadi akar peran Catalyze. “Kami percaya jika solusi-solusi yang kita bangun untuk mengatasi persoalan lingkungan tidak mempertimbangkan perilaku dan sikap manusia, maka solusi tersebut tidak akan efektif.

Perkembangan solusi ramah lingkungan – mulai dari penggunaan energi berkelanjutan hingga menghindari pembakaran sampah sembarangan misalnya – hanya akan berhasil jika ada manfaat yang jelas bagi pengguna. Sayangnya saat ini, hal-hal seperti ini jarang dipertimbangkan oleh pemangku​ ​kepentingan​ ​di​ ​dunia​ ​lingkungan”,​ ​tambahnya.

Latar belakang, pengalaman, profesi hingga usia yang beragam ini justru menjadikan Bali Sustainability Jam jauh lebih menarik. Bagaimana latar belakang pekerjaan di bidang teknik, lingkungan, pariwisata, LSM, oil&gas, start-up, dan komunikasi, hingga mahasiswa, duduk bersama mencoba memecahkan suatu masalah hingga tercipta prototype​ sebagai solusi yang berkelanjutan.

Bali Sustainability Jam 2017 merupakan bagian dari Global Sustainability Jam yang merupakan acara tahunan tempat berkumpulnya para peminat isu keberlanjutan guna bersama-sama menggali ide dan mendesain solusi atas sebuah isu yang tertuang dalam tema besar. Kegiatan ini berlangsung​ ​serentak​ ​di​ ​dunia,​ ​mulai​ ​dari​ ​Sydney​ hingga​  ​New​​ ​York​ ​dan​ ​dari​ ​Bogota​ hingga​​ ​Bali.

Kegiatan akhir pekan selama 48 jam ini terlaksana berkat kerja keras sebuah tim kecil penuh energi dan semangat yang berbasis di Catalyze. Acara yang berbasis kerelawanan ini mampu meyakinkan banyak pihak dan berhasil mendapatkan dukungan dalam bentuk produk dan jasa. Beberapa media lokal Bali pun tidak ketinggalan mendukung dengan menjadi mitra media. Bali Sustainability Jam sangat diupayakan menjadi salah satu contoh kegiatan yang menuju zero waste​. Hal ini sangat mungkin terlaksana berkat tim penyelenggara yang solid, peserta yang peduli​ ​lingkungan,​ ​juga​ ​para​ ​mitra​ ​dan​ ​pendukung​ ​dengan​ ​misi​ ​yang​ ​sama. (SB-cas)

Comments

comments