1.300 Pasien Cuci Darah Terbantu JKBM

64

Mangku Pastika ketika mengunjungi salah satu pasien cuci darah JKBM. |foto-hum|

SULUHBALI.CO, Denpasar – Tak kurang dari 1.300 pasien cuci darah terbantu dengan adanya program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang diluncurkan Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Pada tahun 2013, anggaran yang tersedot untuk melayani kebutuhan ribuan pasien tersebut mencapai Rp. 45 milyar. Data tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr.Ketut Suarjaya melalui Karo Humas Dewa Gede Mahendra Putra, Senin (7/7).

Lebih jauh Kadiskes mengurai, cuci darah gratis seumur hidup merupakan pengembangan layanan JKBM yang mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2013 lalu. Pengembangan layanan ini merupakan sebuah respon untuk menindaklanjuti besarnya harapan masyarakat agar JKBM dapat mengcover cuci darah yang biayanya lumayan menguras kantong pasien. Untuk sekali cuci darah, kata dr. Suarjaya, pasien harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 750 ribu. Padahal, setiap pasien rata-rata harus melakukan cuci darah satu hingga dua kali setiap minggunya. “Bayangkan saja berapa besar dana yang dikeluarkan pasien untuk keberlangsungan hidupnya,” tambah Kadiskes. Karena itu, layanan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka yang menggantungkan hidup dari alat hemodialisa.

Secara umum, Kadiskes kembali mengingatkan bahwa trend Penyakit Tak Menular (PTM) belakangan meningkat signifikan. Ironisnya, bila tak ditangani secara serius, PTM seperti hipertensi dan diabetes militus dapat berujung pada tindakan cuci darah. Penomena ini, tambah dr. Suarjaya, antara lain dipicu oleh pesatnya kemajuan teknologi yang menurunkan gerakan fisik. Jika diprosentasekan, angka PTM belakangan tercatat mencapai 80 persen, mengalahkan jumlah penyakit yang disebabkan infeksi. Yang lebih mengkhawatirkan, PTM menyumbang 60 persen untuk angka kematian.

PTM yang banyak menyumbang angka kematian diantaranya hipertensi, jantung, kanker, paru-paru dan diabetes.Selain kurangnya gerakan fisik, pola makan dan diet kurang sehat, rokok dan ahkohol menjadi penyebab meningkatnya PTM. Sederatan penyakit tersebut butuh proses yang panjang, biaya besar dan cenderung sulit untuk disembuhkan. Selain sebagai penyebab kematian, implikasi lain yang mengikuti penyakit tersebut adalah menurunnya produktifitas yang berujung pada masalah ekonomi dan kemiskinan. “Karenanya, upaya pencegahan tetap lebih baik,” ujarnya.

Untuk pencegahan PTM, dr.Suarjaya mengkampanyekan gerakan CERDIK. CERDIK yang dimaksud Suarjaya adalah Cek kesehatan teratur, Enyahkah rokok, Rajin gerakan fisik dengan berolah raga teratur, Diet dengan gizi berimbang, Istirahat cukup dan Kendalikan stres. Menurut dr.Suarjaya, saat ini Pemprov Bali juga gencar melaksanakan upaya pencegahan PTM melalui pendekatan multisektoral. (SB-hum)

 

Comments

comments